23 Agustus 2014
Ini adalah dua minggu pertama aku menjadi pendampingmu. Bukan hal yang mudah malah sangat sulit. Di minggu pertama aku hampir menyerah kalau Ibuku tak mengirimku pesan agar bertahan setidaknya sebulan. Anak Berkebutuhan Khusus adalah hal yang baru bagiku. Seharusnya aku tidak mendampingimu jika sodaraku itu tidak tiba-tiba diterima bekerja di luar pulau dan harus mencari pengganti. Juga jika ia tidak menawari perkejaan ini ke Ibuku. Ibuku, yang dirundung pilu karena anaknya tak kunjung lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang bagus langsung bersemangat. Dan aku harus menerima pekerjaan ini Rico, mendampingimu hampir setiap hari kecuali hari Minggu.
Rico, Mamahmu adalah malaikat. Aku tak bisa menerjemahkannya, kegelisahan dan ketakutannya akan perkembanganmu di sekolah merupakan ketakutan tersendiri pula untukku. Setiap hari jika ia datang menjemputmu dari sekolah, lalu bertanya bagaimana Rico hari ini? Sesekali aku ingin berbohong, mengatakan bahwa kamu pintar tapi hal itu tak kunjung kulakukan. Aku justru semakin takut membuatnya terluka. Malaikat itu setia mengantar dan menjemputmu ke sekolah setiap hari. Sementara aku hampir saja menyerah di minggu pertama mendampingimu.
Rico, aku membenci Mbak Lela. Kamu mungkin tahu, pendamping Hanif itu entah kenapa selalu bersikap tak ramah padamu. Dia kasar, padahal kau anak kecil. Dia tak ramah, terutama padamu kukira. Aku sering tak paham kenapa ia tak suka jika kamu menyentuhnya. Karena kamu terlambat dalam belajar? Harusnya itu bukan alasan karena ia juga seorang pendamping ABK. Apapun itu Rico, aku tak mengijinkan ia berkata-kata tak ramah padamu. Tak usah kita mendengar cibiran orang, kita akan berjalan sendiri.
Bacaaa yuuukkk ....
Belajar ,, dari yang biasa .. biasa saajjjaaaa ,, sampe jadi luarr biasaa ..
Sabtu, 23 Agustus 2014
Kamis, 05 Juni 2014
Kamu yang Pemarah
6 Juni jam 01.00, dini hari ..
Kamu memang pemarah, kita sudah sangat sering membicarakannya. Kalau kita sedang baik, maksudku kita sedang kondisi tidak bertengkar kamu tentu akan membuatnya menjadi bahan tertawa. Tentu berbeda kalau kita sedang bertengkar, kamu akan semakin marah jika aku mengatakannya. Kamu itu pemarah, kadang aku merasa itu sudah sangat berlebihan.
Kamu marah seringkali bukan karena sikap atau kesalahanku. Tapi ketika kamu marah pada suatu hal maka secara otomatis kamu akan marah-marah, juga kepadaku. Aku pernah marah pada sahabatku, aku pernah marah karena tak lulus toefl, aku pernah marah karena banyak hal lain tapi aku akan marah padamu kalau kamu membuat aku tak nyaman atau kamu melakukan hal yang membuat aku marah. Bukan karena hal lain, berbeda bukan?
Maaf, aku justru membandingkan perbedaan kemarahan kita. Padahal bukan itu yang ingin ku tuliskan sebenarnya.
Kamu marah lagi hari ini padaku, juga karena sebab alasan yang sebenarnya bukan berhubungan langsung denganku. Sebenarnya aku sedih. Jika kamu sedang marah-marah lalu aku mencoba mendinginkan perasaanmu bukan karena aku ingin terlihat "sok baik" atau pencitraan apapun. Bukan, aku hanya ingin menjadi orang yang mendengarkan dan membuat kamu tak melulu diliputi kemarahan. Tapi kamu terlanjur pemarah tanpa mau perduli pada hal lain lagi.
Kamu itu pemarah, sangat pemarah. Sampai kadang-kadang aku merasa lelah, bukan padamu tapi pada kemarahanmu. Dunia ini penuh kekecewaan sedang kamu seolah tak mau bersikap terbuka pada kekecewaan. Aku sedang tidak menggurui, sungguh, ini hanya sebuah perhatian yang kadang aku bingung harus bagaimana menyampaikannya padamu.
Kamu itu pemarah, sangat pemarah. Aku mau mendengarkanmu, tapi kalau kamu bersikap tak mau ku dengarkan, haruskah kusumpal telingaku? Maka berikanlah sebuah sumpalan padaku agar aku tak mendengar apapun lagi, juga kemarahanmu.
Minggu, 01 Juni 2014
Kepada Mahfud MD
Selamat
malam Pak, sebenarnya dini hari ketika saya menuliskan surat ini. Semoga Bapak
dan keluarga senantiasa sehat dan diberikan berkah.
Pak
Mahfud yang baik, pergolakan politik akhir-akhir ini membuat saya malas membaca
berita dan menonton televisi. Apalagi, (jujur) setelah langkah politik Bapak
yang menyatakan mendukung Prabowo-Hatta. Saya memang sangat mengagumi Bapak
tapi saya tahu saya tidak bisa memaksakan bahwa Bapak akan mengambil keputusan
seperti yang saya harapkan.
Bapak
adalah seorang negarawan yang baik dan muslim yang taat dimata saya. Dan saya
selalu berharap kesehatan atas Bapak agar memudahkan Bapak dalam memperjuangkan
cita-cita Bapak demi Indonesia yang kita cintai.
Pasti
ada fakta sejarah dibalik pengambilan sebuah keputusan. Bagi saya, tak
mungkinlah seorang Mahfud MD mengambil keputusan atas dasar kebencian atau balas
dendam seperti banyak yang dicitrakan media. Tapi toh, Bapak pun manusia biasa
yang memiliki kekurangan meski kami berharap begitu banyak pada Bapak.
Pak
Mahfud yang baik hati, semoga Bapak dan keluarga senantiasa diberikan limpahan
berkah dan kesehatan. Beberapa kali di media sosial saya sudah mengungkapkan
kekecewaan saya pada Bapak, atas langkah politik Bapak. Kemudian pada akhirnya
saya menyadari sesuatu, Bapak tentu sedang tidak menukar idealisme bapak dengan
perahu lain. Bapak hanya sedang melakukan kewajiban Bapak sebagai manusia biasa
bukan? Saya sudah terjangkiti demam manusia modern yang mengharapkan segala
sesuatu selalu lengkap dengan jalan keluarnya sekaligus.
Kadangkala
saya harus sedih jika membaca di sana sini semakin banyak yang memberikan
komentar buruk terhadap Bapak. Tentang itu, saya pun harus bersikap maklum
karena saya juga tak bisa memaksa seluruh kepala sependapat dengan saya. Maksud
saya, untuk menghormati bagaimana keputusan Bapak dalam langkah politik.
Bapak
Mahfud, jalan masih begitu panjang untuk Indonesia, untuk Pak Mahfud, dan untuk
saya. Surat ini tidak bermaksud apa-apa kecuali sedikit harapan bahwa Bapak
masih menjadi Pak Mahfud yang saya kagumi. Selalu, semoga Bapak dan keluarga
diberikan kesehatan.
Rabu, 02 April 2014
Sebuah Sore di Perpustakaan Kota Yogyakarta
Orang di sebelah saya berisik sekali, saya tidak kenal. "Dari UGM," Katanya tadi saat ia basa-basi memperkenalkan diri. Kemudian ia lebih banyak mengeluh ketimbang berbagi pengalaman, aku banyak mendiamkan dan sesekali tertawa seikhlasnya.
Selamat sore,
Saya benci setiap kali menyadari matahari diujung sana telah pergi dan saya masih bukan sebagai sebuah pertimbangan untuk sekedar memulai hari esok pagi.
Maka langkah kaki yang terburu-buru akan menjadi jawaban yang teramat membosankan seperti biasanya.
Kalau kau pernah merasa sangat berarti dan sekarang tidak lagi. Harusnya kau segera mengunci pintu dan berhenti memanggil.
Selamat sore,
Saya benci setiap kali menyadari matahari diujung sana telah pergi dan saya masih bukan sebagai sebuah pertimbangan untuk sekedar memulai hari esok pagi.
Maka langkah kaki yang terburu-buru akan menjadi jawaban yang teramat membosankan seperti biasanya.
Kalau kau pernah merasa sangat berarti dan sekarang tidak lagi. Harusnya kau segera mengunci pintu dan berhenti memanggil.
Selasa, 25 Maret 2014
Kunci
Teman adalah kumpulan kekurangan, dan teman adalah kumpulan penerimaan.
Suatu hari aku kehilangan kunci, entah dimana jatuhnya. Semua bermuara dari kalimat yang mengalir deras lalu kunciku hilang. Aku sudah mencoba mencarinya, bersama banyak pengakuan. Aku sudah mencoba mencarinya, bersama banyak penerimaan.
Tapi kunciku hilang, dan hatiku tergembok. Lantaran aku juga manusia biasa.
Suatu hari aku kehilangan kunci, entah dimana jatuhnya. Semua bermuara dari kalimat yang mengalir deras lalu kunciku hilang. Aku sudah mencoba mencarinya, bersama banyak pengakuan. Aku sudah mencoba mencarinya, bersama banyak penerimaan.
Tapi kunciku hilang, dan hatiku tergembok. Lantaran aku juga manusia biasa.
Senin, 10 Februari 2014
Sudah pagi lagi
Selamat pagi bagi yang terburu-buru, atau bagi yang sedang lupa untuk berburu-buru ...
Di sini, saya bisa melihat seorang tetangga yang setiap paginya menggendong anaknya, perempuan setengah baya dengan kulit kehitaman yang sesekali mencium pipi mungil anaknya. Atau dua anak kembar kecil yang terus berlari kesana kemari tanpa lelah. Kalau mereka anak orang punya, mereka pasti tengah duduk dibangku PAUD bersama ibu-ibu guru mereka yang asyik menyanya menyinyi. Atau sekarang kebanyakan bersama guru-guru cetakan baru yang menyentuh kanak-kanak dengan sedikit malas. Tak apa, sekolah guru sekarang memang menjadi tidak menarik dan tidak memberi banyak pemahaman.
Selamat pagi, bagi yang terlelap, masih bisa terlelap
Dalam tidur pagi sesekali kita bisa bermimpi. Mengharapkan dihinggapai mimpi ini itu, meski sesekali kita tergagap ketika terbangun. Atau segera bisa biasa saja dan menyeduh kopi dengan bahagia. Selamat, yang begitu berarti hidup tengah indah-indahnya. Karena dihari berikutnya semua bisa berubah. Siapa yang tahu? Waktu per detik adalah perubahan dengan kecepatan yang tiada tara bandingannya.
Selamat pagi, mereka-mereka yang tengah sibuk di pasar.
Menikmati keruwetan pasar dengan becek sana sini bekas sisa hujan kemarin malam. Aliran air selalu saja tak beres, yang harusnya mengurus terlalu sibuk dengan ana inu yang entahlah, begitu menyita perhatian mereka. Lalu uang-uang bayaran mereka yang berapa ribu rupiah perminggunya itu, menjadi sia-sia. Menguap bersama kepulan knalpot motor bebek yang terus diproduksi secara besar-besaran.
Selamat pagi, yang masih menikmati pagi, yang melupakan pagi.
Di sini, saya bisa melihat seorang tetangga yang setiap paginya menggendong anaknya, perempuan setengah baya dengan kulit kehitaman yang sesekali mencium pipi mungil anaknya. Atau dua anak kembar kecil yang terus berlari kesana kemari tanpa lelah. Kalau mereka anak orang punya, mereka pasti tengah duduk dibangku PAUD bersama ibu-ibu guru mereka yang asyik menyanya menyinyi. Atau sekarang kebanyakan bersama guru-guru cetakan baru yang menyentuh kanak-kanak dengan sedikit malas. Tak apa, sekolah guru sekarang memang menjadi tidak menarik dan tidak memberi banyak pemahaman.
Selamat pagi, bagi yang terlelap, masih bisa terlelap
Dalam tidur pagi sesekali kita bisa bermimpi. Mengharapkan dihinggapai mimpi ini itu, meski sesekali kita tergagap ketika terbangun. Atau segera bisa biasa saja dan menyeduh kopi dengan bahagia. Selamat, yang begitu berarti hidup tengah indah-indahnya. Karena dihari berikutnya semua bisa berubah. Siapa yang tahu? Waktu per detik adalah perubahan dengan kecepatan yang tiada tara bandingannya.
Selamat pagi, mereka-mereka yang tengah sibuk di pasar.
Menikmati keruwetan pasar dengan becek sana sini bekas sisa hujan kemarin malam. Aliran air selalu saja tak beres, yang harusnya mengurus terlalu sibuk dengan ana inu yang entahlah, begitu menyita perhatian mereka. Lalu uang-uang bayaran mereka yang berapa ribu rupiah perminggunya itu, menjadi sia-sia. Menguap bersama kepulan knalpot motor bebek yang terus diproduksi secara besar-besaran.
Selamat pagi, yang masih menikmati pagi, yang melupakan pagi.
Minggu, 09 Februari 2014
Bagaimana nanti aku bisa?
Bertambah dewasa dengan
usia yang semakin merangkak dengan bergelisah imajinasiku serasa dibawa ke masa
depan. Aku perempuan, maka sewajarnya perempuan lain kemudian akan menikah dan
memiliki anak. Itu biasa saja, semua perempuan di lingkunganku dan pada masanya
nanti mulai memikirkan hal-hal sewajar itu. Itu sangat biasa saja.
Ah, lagi pula aku suka sekali melihat anak kecil, menimang-nimang
mereka. Lagi pula aku selalu senang melihat keluarga kecil yang nampak
berbahagia. Memulai rencana-rencana kecil, membangun masa depan dengan cerah.
Lagi pula semua perempuan di lingkunganku akan mengalami masa yang sama. Kami
akan kawin lalu beranak pinak. Kemudian menyandang gelar baru sebagai ibu.
Dibuku-buku ensiklopedia, di buku-buku pelajaran, di
dongeng-dongeng kanak-kanak, aku banyak terbuai tentang mulianya seorang ibu.
Bagaimana besar jasa ibu, bagaimana mereka menjadi tonggak kebesaran jaman.
Mereka tokoh balik layar kesuksesan masa depan. Mengaca pada ibuku yang begitu
lugu dan sederhana mewariskan sedikit pengertian masa lalunya untuk pemahaman
jaman berkembang kepadaku.
Lalu tiba padaku. Aku biasa saja, semua perempuan toh
pada akhirnya akan menyusui anak mereka dengan puting-puting pemahaman mereka.
Sekedarnya, ala kadanya, atau pura-pura luar biasa.
Tapi apa nanti yang bisa aku wariskan kepada jabang bayi
yang mungkin lahir dari garbaku?
Aku tumbuh di jaman yang dimana daging adalah keutamaan.
Bungkus-bungkus mulai menjadi jauh lebih mahal dari pada rasa yang didapat.
Bagaimana bisa aku mewariskan budaya daging sementara aku berkecamuk tumbuh
didalamnya. Bagaimana bisa aku memberi menu utama perkembangan anakku nanti
sesuatu yang berasa, bila jaman ibunya adalah jaman semua orang memuja daging.
Ah.
Apa yang bisa aku wariskan kepada mereka nanti?
Mungkinkah modernitas yang semakin lama semakin memuakkan
dan membelenggu manusia dalam hidup yang begitu Ab Ab ? bagaimana bisa aku
menyuapi sarapan kepada bayi merah itu dengan layar-layar elektronik yang
setiap harinya terlalu banyak berisi kepura-puraan dan kebohongan.
Apa yang bisa kau wariskan kepada anakku nanti?
Budaya yang begitu penuh keglamoran? Ketika kesederhanaan
menjadi sesuatu yang dianggap perlu diasingkan. Dimana semua orang
berlomba-lomba menjadi seperti kebanyakan orang lain dengan mengikuti
citra-citra yang sengaja diciptakan segelintir orang. Haruskan aku mewariskan
pada anakku nanti? Jika yang kuwariskan adalah premature dari sebuah kepanikan
modernitas.
Senin, 03 Februari 2014
Gus Dur, bagaimana saya harus berpendapat?
"Bapak mengajari saya untuk melihat sesuatu bukan dari bungkusnya, tapi dari substansinya," tutur Yenny Wahid, putri pertama mantan Presiden Indonesia itu.
Saya masih duduk di kelas 3 SD ketika Abdurrahman Wahid dilantik sebagai Presiden RI. Saya tidak mengerti apa-apa, kecuali keluarga besar saya terlihat senang. Dulu aku tak peduli, permainan kanak-kanak jauh lebih menarik perhatian saya.
Waktu berlari seperti pelari maraton yang terus melaju tanpa sempat menoleh kebelakang. Semua adalah persaingan, semua adalah menang dan kalah. Begitu waktu membawa usia kanak-kanakku menjadi remaja kemudian dewasa. Mulai beranjak dari permainan kanak-kanak ke semakin banyak lagi perkara lain. Dan permainan kanak-kanak kini mejadi begitu asing digantikan begitu banyak kebisingan dan keributan.
Gus Dur. Saya menjadi begitu tertarik kepadanya, bukan karena begitu banyak media cetak yang menuliskan tentang bagaimana ia menjadi pejuang pluralisme. Bukan. Tapi ketika dalam sebuah tayangan televisi setelah pelengseran paksanya dari kuri kepresidenan, ia menyatakan kalimat yang selama ini saya cari kemana pun tak saya temukan. Kalimat, yang memnuhi kehausan saya selama 22 tahun kehidupan saya.
"Pak Harto itu pintar sekali, jasanya begitu banyak untuk bangsa ini, tapi dosanya juga begitu besar," katanya disambut tawa penonton di studi TV swasta itu.
Aku terpukau, aku mencoba mencari begitu banyak kalimat, begitu banyak kata tapi aku seolah selalu berujung pada kekosongan. Lama sekali Pak Harto mejadi tokoh idola saya, sekaligus tokoh yg membuat saya benci karena dosa politiknya pada bangsa ini. Lalu saya tahu, pada akhirnya kita tak bisa melihat sesuatu hanya dari bungkusnya, tapi substansinya.
#Bersambung #NyambiNguli
Minggu, 11 Agustus 2013
Tri Nurani #2
Selamat malam Ran ..
Pertemuan denganmu selalu membekaskan luka. Aku masih menyimpan hijau matamu,seperti lembah Baliem yang diceritakan sebuah novel yang begitu perawan. Sejak dulu, matamu masih begitu. Ketika tahun-tahun merangkak merubah begitu banyak hal, matamu masih begitu setia .. Ah, Ran .. bagaimana bisa hidup menjadi begitu sederhana di sana, matamu. Seperti sebungkus permen ratusan rupiah yang murah.
Jalan menuju rumahmu telah berubah, setidaknya ban sepeda motorku tak perlu lagi bocor dulu sebelum sampai.. paving-paving dan aspal telah mempermudah semuanya. Lalu kau menuturkan tentang jalan hidupmu. Haha, dan aku tiba-tiba lelah.
- Lebih baik membuang banyak hal, ketimbang terluka oleh banyak hal.-
Aku? Masih kekanakan yang tak bisa membayang bagaimana lekuk hitam dihijau matamu. Itu jauh, aku tak bisa mengenal.
Selamat malam Ran, di sini begitu dingin .. semoga tak petnah sedingin hidup (ku) atau (mu).
Pertemuan denganmu selalu membekaskan luka. Aku masih menyimpan hijau matamu,seperti lembah Baliem yang diceritakan sebuah novel yang begitu perawan. Sejak dulu, matamu masih begitu. Ketika tahun-tahun merangkak merubah begitu banyak hal, matamu masih begitu setia .. Ah, Ran .. bagaimana bisa hidup menjadi begitu sederhana di sana, matamu. Seperti sebungkus permen ratusan rupiah yang murah.
Jalan menuju rumahmu telah berubah, setidaknya ban sepeda motorku tak perlu lagi bocor dulu sebelum sampai.. paving-paving dan aspal telah mempermudah semuanya. Lalu kau menuturkan tentang jalan hidupmu. Haha, dan aku tiba-tiba lelah.
- Lebih baik membuang banyak hal, ketimbang terluka oleh banyak hal.-
Aku? Masih kekanakan yang tak bisa membayang bagaimana lekuk hitam dihijau matamu. Itu jauh, aku tak bisa mengenal.
Selamat malam Ran, di sini begitu dingin .. semoga tak petnah sedingin hidup (ku) atau (mu).
Kamis, 04 Juli 2013
Surat 6
Kepada Tempat KKN
Dapat sinyal di internet di Mangunan itu bahagia sekali.
Ah, ini resah yang berbeda bentuk lagi .. Teman di sebelah saya berisik sekali, kadang saya ingin muntah ..
Dapat sinyal di internet di Mangunan itu bahagia sekali.
Ah, ini resah yang berbeda bentuk lagi .. Teman di sebelah saya berisik sekali, kadang saya ingin muntah ..
Jumat, 14 Juni 2013
Surat 5
Kepada Tuhanku
Selamat dini hari Tuhan. Mungkin Engkau segera merasa lelah karena aku datang lagi, ah Kau tak mengenal lelah bukan? Hari ini rasanya aku ingin banyak bercerita pada Mu. Kau tahu bukan? Aku pandai sekali mengeluh, seperti kebanyakan Umat Mu. Ah, lucu sekali karena Engkau seringkali begitu lucu pada hidupku.
Tuhan, aku tahu. Ini bukan kesalahan Mu. Bukan, ini tentang hidup dan pilihan. Ah, Kau tahu bukan? Cepat atau lambat kegelisahan ini akan segera sampai pada tempatnya. Kebimbangan.
Jangan buat aku berpikir hidup ini tidak berpihak padaku Tuhan, aku mohon .. untuk satu hal itu saja :)
Selamat dini hari Tuhan. Mungkin Engkau segera merasa lelah karena aku datang lagi, ah Kau tak mengenal lelah bukan? Hari ini rasanya aku ingin banyak bercerita pada Mu. Kau tahu bukan? Aku pandai sekali mengeluh, seperti kebanyakan Umat Mu. Ah, lucu sekali karena Engkau seringkali begitu lucu pada hidupku.
Tuhan, aku tahu. Ini bukan kesalahan Mu. Bukan, ini tentang hidup dan pilihan. Ah, Kau tahu bukan? Cepat atau lambat kegelisahan ini akan segera sampai pada tempatnya. Kebimbangan.
Jangan buat aku berpikir hidup ini tidak berpihak padaku Tuhan, aku mohon .. untuk satu hal itu saja :)
Selasa, 21 Mei 2013
Surat 3
Kepada Sari, kucingku yang hilang
Sari, katanya kau hilang? Aku tak percaya.
Kucing secerdas dirimu tak mungkin hilang, kau sengaja menghilangkan diri kah? Ke mana? Apa yang membuatmu sengaja meninggalkan kedua anakmu dan aku? Aku yang menistakan diri dengan begitu menyayangimu (kukira). Adakah yang salah dengan dirimu? Atau kedua anakmu? Atau lagi-lagi aku?
Sari, kau mungkin salah dengan langkah pergimu meski kau urung lalu kemudian ragu. Tapi pergi telah menciptakan jarak, kau, anak-anakmu dan aku. Aku! Sari, aku mencintai kembang telonmu dan ngeong-mu yang selalu terasa mendayu-dayu. Dan kau meninggalkanku begitu saja. Bahkan sekedar menungguku untuk menatap mata kecoklatanmu pun kau tak mau.
Sabtu, 04 Mei 2013
Surat 2
Kepada Nafilah, diri dalam diriku
Sudah jam berapa ini? Ini sudah dini hari Nafil, kenapa belum juga mengantuk? Ayo lekas tidur, kamu masih ingat kan? besok pagi-pagi benar kamu harus mandi dan siap-siap pergi. Jangan tanya ke mana, langkah kaki tidak selalu menginjak tempat yang indah karena kau mengerti tempat itu sebelumnya. Kan?
Ah, kalau kamu masih juga belum mengantuk, aku temani kamu saja ya.
Apa yang akan kita lakukan atau pikirkan atau diskusikan atau rencanakan dini hari yang kelu ini Nafil? Aku ikuti maumu saja ya? Aku tahu sesekali kamu sangat suka dituruti.
Iya baik jika kamu mau aku mendongeng. Dengar baik-baik ya ceritaku. Aku tak pandai mengulang cerita, jika nanti suatu hari kamu meminta cerita yang sama, aku tak kan bisa melakukannya. Nafil, aku juga sama sepertimu tentang cerita atau sudutpandang. Nafil, aku bisa membacamu, sepertimu padaku. Sudah, dengar-dengarlah dulu aku bercerita yaa ..
Namanya bahagia Fil, kamu tahu kan?
Sudah jam berapa ini? Ini sudah dini hari Nafil, kenapa belum juga mengantuk? Ayo lekas tidur, kamu masih ingat kan? besok pagi-pagi benar kamu harus mandi dan siap-siap pergi. Jangan tanya ke mana, langkah kaki tidak selalu menginjak tempat yang indah karena kau mengerti tempat itu sebelumnya. Kan?
Ah, kalau kamu masih juga belum mengantuk, aku temani kamu saja ya.
Apa yang akan kita lakukan atau pikirkan atau diskusikan atau rencanakan dini hari yang kelu ini Nafil? Aku ikuti maumu saja ya? Aku tahu sesekali kamu sangat suka dituruti.
Iya baik jika kamu mau aku mendongeng. Dengar baik-baik ya ceritaku. Aku tak pandai mengulang cerita, jika nanti suatu hari kamu meminta cerita yang sama, aku tak kan bisa melakukannya. Nafil, aku juga sama sepertimu tentang cerita atau sudutpandang. Nafil, aku bisa membacamu, sepertimu padaku. Sudah, dengar-dengarlah dulu aku bercerita yaa ..
Namanya bahagia Fil, kamu tahu kan?
Ingat? saat-saat pertama kamu bisa naik sepeda lalu seharian penuh kamu tak mau berhenti mengendarainya. Ingat? Saat pertama kamu punya keponakan baru? Ingat? Saat Ibumu pulang dari Jakarta dan membawakanmu sepasang sepatu berwarna biru? Ingat? Ketika kamu pernah ranking 1? Ingat? Ketika, siapa namanya dulu Fil? Anak kecil seusiamu yang rajin mengirimu surat? Aku lupa, sengaja melupakannya, usiamu terlalu kecil dan kamu memang tak peka pada hal-hal begitu kan dulu? Tapi kau bahagia bukan? Ingat? Ketika teman-temanmu memberikan kejutan diulang tahunmu? Ingat? Ketika dia, dia, dia, dan dia mengatakan perasaannya padamu? Namanya bahagia Fil, kamu sudah begitu lancar mengejanya kukira.
Kemudian luka Fil, kamu juga sangat tahu kan?
Suatu hari aku duduk bersama Bapakmu, dan dia berkata "Nanti, kamu lulus kuliah dulu, baru Bapak naik haji." Aku menangis semalaman setelah itu di kamar dengan isak yang tertahan. Perih bukan Fil?
Dihari dan bulan yang jauh-jauh dari air mata itu, seorang sahabat tidak datang ketika kau sangat membutuhkannya. Merasa menghadapi getir sendiri tanpa ada alat peraba. Pada sebuah perjalanan aku menangis, mengelus retak dengan terbata. Luka bukan fil?
Dihari dan bulan yang jauh-jauh dari air mata itu, seorang sahabat tidak datang ketika kau sangat membutuhkannya. Merasa menghadapi getir sendiri tanpa ada alat peraba. Pada sebuah perjalanan aku menangis, mengelus retak dengan terbata. Luka bukan fil?
Pada suatu tahun, hari dan bulan yang lalu. Ketika sebuah stasiun menyaksikan jemariku yang mendingin dan tatapan mataku yang nanar. Sementara seseorang disampingku terlalu sama-sama menderita untuk mengurai kata. Aku diam, menggigit bibir bawahku yang bergetar dan sekuat tenaga menahan laju butiran tangis diujung mata. Sakit bukan Fil? Lalu belajar mengikhlaskan dan diikhlaskan luka.
Lalu, ketika aku belajar cemburu. Membiarkan hatiku yang lama angkuh untuk jujur dan membiarkan dinding kokohnya meluntur perlahan. Perih bukan Fil? Aku sekarang tahu kenapa diriku dulu membentuk diri menjadi begitu jumawa, karena memang sangat luka cemburu itu. Bukan begitu Fil? Jujurlah pada dirimu sendiri, seperti dongengku malam ini.
Nafil, aku mau bercerita banyak padamu malam ini. Masihkah telingamu mendengarkanku? bukankah kamu selalu mengaku pandai mendengarkan? Kenapa seringkali tidak padaku? Padahal aku bagian darimu Fil, Pelengkap keutuhanmu.
Nafil, satu hal yang ingin kukatakan padamu. Kau ingat bukan tentang guru bahasamu ketika SMP dulu? Iya, dia yang berkepala botak. Fil, kenapa kamu mulai melepas yang ingin kamu genggam erat? Kamu ingat Bapak itu pernah berkata, "Nafil, Bapak suka cita-citamu. Ah, bukan suka namanya tapi percaya. Tapi jangan mudah lelah, apalagi bosan."
Nafil, kamu sedang apa sekarang?
Lihat tanganmu dan teliti apa saja yang sudah hilang dari sana?
Kamu masih tak melihat Fil?
Kukira kamu mulai buta ..
Kamis, 18 April 2013
Surat
Kepada sahabatku, Tri Nurani
Ran, berapa umurmu tahun ini? 22 tahun kah? 23 tahun kah? Haha, begitu cepatnya waktu merambat menelan usia-usia kita begitu saja. Tidak ada yang tidak menjadi usang bukan? Kecuali lahir terus menerus. Sedang apa kau di sana? Lelah pada hari-hari kah? Atau terlalu sibuk bahagia? Ah, apapun itu Ran.
Hari ini tiba-tiba aku diserang rindu padamu. Pada masa-masa putih biru yang menyekat kita pada dunia ambigu yang lucu. Hah, aku rindu bersepeda jauh-jauh, atau, melihat nilai-nilaimu yang selalu sepuluh. Iri betul aku padamu Ran. Rambut keritingmu itu, melindungi otak yang selalu saja membuat aku ingin sepertimu. Waktu itu, ketika nilai-nilai sekolah adalah kebanggaan bocah-bocah lugu seperti aku dan kamu.
Aku rindu pada waktu-waktu itu. Ketika kita menjadi kanak-kanak tanpa banyak logika. Tidak ada lelah atau menyerah. Semua adalah petualangan tanpa banyak gugatan penuntutan. Semua adalah kemasan tawa tanpa tanda kadaluarsa. Dulu, bukankah begitu Ran? Meski aku tahu, matamu selalu menyimpan entah apa itu. Yang sering membuatku merasa kau tengah tak di sana, bersama tawa yang kadang kurasa kau mati rasa.
Hari-hari itu Ran, hari-hari di mana kita menuju dewasa dengan tergesa. Seolah kedewasaan adalah surga dan kanak-kanak itu memalukan. Aku menyesal. Aku rindu sekali Ran. Pada kantin sekolah, pada bangku-bangku kelas, pada remidi ulangan fisika, pada guru Sejarah yang galak, pada mushola di sekolahan, pada sahabat-sahabat kita, Diaz, Nila dan Fani. Semua nampak mengejarku, seperti menarik ribuan helai takdirku untuk kembali ke sana. Entah menemui apa ..
Waktu ternyata memang sangat mengerikan. Ia merenggut tawa bocah kita dan mengubahnya menjadi kedewasaan yang memuakkan. Pada Nila dan Diaz. Tiba-tiba kita menjadi begitu berubah. Seolah-olah modernitas membuat kita menjadi begitu najis pada kebersamaan. Ran, aku telah terlalu muak tapi aku kelu pada rindu ..
Tentang kematian Ran ..
Aku tahu kau lebih bersahabat dengannya ketimbang aku. Waktu itu, ketika tubuhmu bergetar saat perempuan yang mengandungmu 9 bulan berbalut kain kafan, aku hanya mampu bisu. Di sana, puluhan pelayat berbela sungkawa dan mengelus kepalamu. Kau masih tidak menangis. ran, begitu kuatkah hatimu? Atau begitu hebat kah kau bersembunyi?
Kematian, lagi, ketika ia menyapa Fani dan membawanya. Itu pertama kalinya aku mengenal luka Ran, sementara kau jauh lebihh dulu kenal. Diusia semuda itu, aku tak mengerti kenapa kematian menjadi begitu aku takutkan. Lalu kini aku mengerti, bagaimana baik Tuhan tak mengenalkan pada Fani dunia yang merenggut kita sekarang. Begitu baik tuhan hingga Fani tak perlu hanya demi anu atau atas nama anu harus begini dan begitu. seperti yang kita jalani sekarang, bukan begitu kah Ran???
Selamat sore Rani, sahabatku, ini surat pertamaku yang entah sampai atau tidak padamu ..
Di sini gerimis Ran, sementara hatiku telah lebih dulu banjir .. :)))
Ran, berapa umurmu tahun ini? 22 tahun kah? 23 tahun kah? Haha, begitu cepatnya waktu merambat menelan usia-usia kita begitu saja. Tidak ada yang tidak menjadi usang bukan? Kecuali lahir terus menerus. Sedang apa kau di sana? Lelah pada hari-hari kah? Atau terlalu sibuk bahagia? Ah, apapun itu Ran.
Hari ini tiba-tiba aku diserang rindu padamu. Pada masa-masa putih biru yang menyekat kita pada dunia ambigu yang lucu. Hah, aku rindu bersepeda jauh-jauh, atau, melihat nilai-nilaimu yang selalu sepuluh. Iri betul aku padamu Ran. Rambut keritingmu itu, melindungi otak yang selalu saja membuat aku ingin sepertimu. Waktu itu, ketika nilai-nilai sekolah adalah kebanggaan bocah-bocah lugu seperti aku dan kamu.
Aku rindu pada waktu-waktu itu. Ketika kita menjadi kanak-kanak tanpa banyak logika. Tidak ada lelah atau menyerah. Semua adalah petualangan tanpa banyak gugatan penuntutan. Semua adalah kemasan tawa tanpa tanda kadaluarsa. Dulu, bukankah begitu Ran? Meski aku tahu, matamu selalu menyimpan entah apa itu. Yang sering membuatku merasa kau tengah tak di sana, bersama tawa yang kadang kurasa kau mati rasa.
Hari-hari itu Ran, hari-hari di mana kita menuju dewasa dengan tergesa. Seolah kedewasaan adalah surga dan kanak-kanak itu memalukan. Aku menyesal. Aku rindu sekali Ran. Pada kantin sekolah, pada bangku-bangku kelas, pada remidi ulangan fisika, pada guru Sejarah yang galak, pada mushola di sekolahan, pada sahabat-sahabat kita, Diaz, Nila dan Fani. Semua nampak mengejarku, seperti menarik ribuan helai takdirku untuk kembali ke sana. Entah menemui apa ..
Waktu ternyata memang sangat mengerikan. Ia merenggut tawa bocah kita dan mengubahnya menjadi kedewasaan yang memuakkan. Pada Nila dan Diaz. Tiba-tiba kita menjadi begitu berubah. Seolah-olah modernitas membuat kita menjadi begitu najis pada kebersamaan. Ran, aku telah terlalu muak tapi aku kelu pada rindu ..
Tentang kematian Ran ..
Aku tahu kau lebih bersahabat dengannya ketimbang aku. Waktu itu, ketika tubuhmu bergetar saat perempuan yang mengandungmu 9 bulan berbalut kain kafan, aku hanya mampu bisu. Di sana, puluhan pelayat berbela sungkawa dan mengelus kepalamu. Kau masih tidak menangis. ran, begitu kuatkah hatimu? Atau begitu hebat kah kau bersembunyi?
Kematian, lagi, ketika ia menyapa Fani dan membawanya. Itu pertama kalinya aku mengenal luka Ran, sementara kau jauh lebihh dulu kenal. Diusia semuda itu, aku tak mengerti kenapa kematian menjadi begitu aku takutkan. Lalu kini aku mengerti, bagaimana baik Tuhan tak mengenalkan pada Fani dunia yang merenggut kita sekarang. Begitu baik tuhan hingga Fani tak perlu hanya demi anu atau atas nama anu harus begini dan begitu. seperti yang kita jalani sekarang, bukan begitu kah Ran???
Selamat sore Rani, sahabatku, ini surat pertamaku yang entah sampai atau tidak padamu ..
Di sini gerimis Ran, sementara hatiku telah lebih dulu banjir .. :)))
Senin, 08 April 2013
PINTU
Telah kutitipkan padamu
Lewat dinding kamar yang dingin juga sepi
Gumpalan-gumpalan cerita
Dan garis-garis temaram
Hari ini,
Ribuan hektar pelangi hampir jatuh di kamarku
Lewat matamu,
Disekat jeda semua mendadak bisu
Ah,
Di
pintu kamarku kau mengetuk-ngetuk namanya.
Sayang, kau tahu telah lama bulan purnama tak jatuh di halaman rumahku
Atau padang ilalang yang menjelma gurun pasir di belakang rumahku
Semua terasa begitu asing
Di sini, hujan tak ada di bulan Juni atau Juli
Tapi entah, dibalik pintu kamarku ..
Mungkin nanti bisa kau dengar rapat tetesnya,
atau kau raba basahnya ..
Mungkin, nanti ..
Selasa, 26 Maret 2013
Sesudah Membaca Puisimu
Seekor ulat bulu menggeliat resah terkena sinar matahari dan cacing tanah sembunyi baik-baik di dalam tanah yang lembab.
Selepas subuh beberapa jangrik sengaja bersuara menggoda beberapa bayi mungil agar merengek susu ibunya.
Setumpuk jajanan di pasar tergeletak pasrah sementara beberapa orang gila berjalan tanpa mengerti utara atau timur.
Seikat seruni di kematian seorang perempuan masih lebih wangi dibanding sejuntai tangis pengantar kepiluan.
Sepasang mata kucing memicing menatap seonggok daging dan burung-burung ramai berkicauan.
Sebotol minuman pengantar tidur, bukan berarti habis ketika bangun menyapa.
Sudah berapa kali aku menjadi begitu menyebalkan????
Selepas subuh beberapa jangrik sengaja bersuara menggoda beberapa bayi mungil agar merengek susu ibunya.
Setumpuk jajanan di pasar tergeletak pasrah sementara beberapa orang gila berjalan tanpa mengerti utara atau timur.
Seikat seruni di kematian seorang perempuan masih lebih wangi dibanding sejuntai tangis pengantar kepiluan.
Sepasang mata kucing memicing menatap seonggok daging dan burung-burung ramai berkicauan.
Sebotol minuman pengantar tidur, bukan berarti habis ketika bangun menyapa.
Sudah berapa kali aku menjadi begitu menyebalkan????
Rabu, 20 Maret 2013
Jogjakarta-Solo
Diantara berpasang-pasang mata burung gereja,
lambaian pohon cemara,
dan kursi usang di beranda Santa Maria
seorang gadis dengan gelisah memainkan ujung jilbabnya
Bukan tabrakan angin yang terlalu kencang
atau jalan Jogjakarta-Solo yang tak ramah
tak ada yang berubah
kecuali beberapa lubang tanda luka
Hidup hanya menunda kekalahan kata Chairil
sedang kita terus menunda perpisahan, katamu
Ujung jilbabnya telah sedikit basah
dan burung-burung gereja saling berbisik
lalu terbang tanpa berani menoleh lagi
Solo, dikayuh resah aku menujunya.
Huruf-huruf-mu
Aku telah berjanji, pada tetes-tetes embun pagi
aku tak akan menangis
bila kau eja huruf-huruf berlarian di saku celanamu
lalu katamu, aku lupa pada janji
sementara huruf-hurufmu telah menjadi kalimat-kalimat pragmatik
Bacakan padaku semua!!
semua yang kau punya.
Kau baca dengan gamblang semua kalimatmu
tanpa jeda, tanpa koma
kau baca dan aku menganga
Kau baca dengan begitu jumawa
Sementara aku,
mengeja luka dengan terbata..
aku tak akan menangis
bila kau eja huruf-huruf berlarian di saku celanamu
lalu katamu, aku lupa pada janji
sementara huruf-hurufmu telah menjadi kalimat-kalimat pragmatik
Bacakan padaku semua!!
semua yang kau punya.
Kau baca dengan gamblang semua kalimatmu
tanpa jeda, tanpa koma
kau baca dan aku menganga
Kau baca dengan begitu jumawa
Sementara aku,
mengeja luka dengan terbata..
Rabu, 30 Januari 2013
What The PUUKK
Masih ingat sama kata-kata begini : "Wah, sekarang kamu menjadi lain ya?"
Aku heran, apa sekarang aku mendadak menjjadi Sailor Moon?? atau sekarang rupaku sudah mirip Merlin Monroe?? Atau jangan-jangan isi kepalaku mendadak Habibie?? Pelisss, aku masihh Napil yang mutlak unyu !!!
--> Apa harus aku nerangin teori perubahan? Ah, itu sudah jadi update-an di mana-mana. Sudah jadi alibi yang basi. Semua dewasa mengerti bagaimana perubahan pasti mengikuti setiap orang. Kalo ada orang di dunia ini yang selalu sama diberbagai waktu berbeda aku percaya bahwa dia gila.
Atau mungkin beberapa orang terlalu mengharap aku menjadi apa yang sesuai dikepala mereka, sampai kadang keluar kalimat : "wah, kamu sejak kapan "begini"?" atau "Kamu sekarang jadi begitu ya?"
Hadeh, kadang bingung harus menjawab apa atau berekspresi seperti apa. Atau kalau pertanyaan-pertanyaan retoris seperti itu terlalu berulang kali terulang dari mulut yang sama, kadang, aku ingin melempar si penanya dengan apapun barang tumpul di muka bumi. #Upssss, soryy, lebay yang tadi. Lebih banyak biasa aja sih, ya, sedikit menggerutu kadang. Heran karena beberapa orang tidak siap dengan perubahan. Terus guweh harus gemana getooo?????
--> ini bbukan percobaan pembelaan diri, tapi buat apa aku tegaskan?? Iya, ini percobaan pembelaan diri. atau aku bingung jalan mana yang harus aku terangkan agar pertanyaan-pertanyaan semacam tadi tidak terlontar.
Hahahhahaha ...
Persepsi lagi, persepsi lagi. Tidak mencoba membohongi diri sendiri bahwa kadang persepsi terlalu menyudutkan. Dan terlalu sering menuntut lebih mungkin. Ayolah,, hidup sendiri itu tidak mungkin, hidup tanpa persepsi itu mustahil tapii .. tapii .. tapi ya kudu dijalani ..
Tenang saja ya kalian-kalian yang sangat perhatian padaku. Aku mendengarkan kok, cuma kadang bagaimana ya aku menjelaskannya, agak susah. Kadang seseorang memiliki ukuran sendiri tentang bagaimana sewajarnya perubahan mengikuti mereka. Atau kadang (aku) memilih berubah dengan berbagai macam buntut yang kurang aku pikirkan. Ini bukan pernyataan penolakan pada persepsi dan pendapat. Ini hanya sebatas sedikit sudut pandang ..
Kamis, 17 Januari 2013
Bagaimana ??
Jam Empat pagi ..
Aku tidak mengerti, menjelaskan pun rasanya hanya akan menjadi sebuah ketidakperluan .. karena kau tak pernah bertanya ..
Tapi.
Aku (pikir) kau salah memahami ..
Aku (harap) kau mau membuka matamu, atau sekedar mencoba menafsirkan lebih luas ..
Aku sudah mencoba membahasakan dengan cara yang paling halus ..
Dan masalah (lagi) persepsi memang urusanmu ..
Selamat pagi
Kepadamu, (yakin), kali ini jelas kepadamu ..
Yang entah dengan bahasa apa lagi bisa kubuat mengerti ..
Yang entah dengan tanda apa lagi bisa merasakan ..
Aku (begini) padamu ..
Selamat pagi ..
Aku tidak mengerti, menjelaskan pun rasanya hanya akan menjadi sebuah ketidakperluan .. karena kau tak pernah bertanya ..
Tapi.
Aku (pikir) kau salah memahami ..
Aku (harap) kau mau membuka matamu, atau sekedar mencoba menafsirkan lebih luas ..
Aku sudah mencoba membahasakan dengan cara yang paling halus ..
Dan masalah (lagi) persepsi memang urusanmu ..
Selamat pagi
Kepadamu, (yakin), kali ini jelas kepadamu ..
Yang entah dengan bahasa apa lagi bisa kubuat mengerti ..
Yang entah dengan tanda apa lagi bisa merasakan ..
Aku (begini) padamu ..
Selamat pagi ..
Langganan:
Postingan (Atom)