Bacaaa yuuukkk ....

Belajar ,, dari yang biasa .. biasa saajjjaaaa ,, sampe jadi luarr biasaa ..

Senin, 10 Desember 2012

Tentang 3 DESEMBER 2012

Mungkin, dari 24 orang yang tergabung dalam Patlikut teater, akulah yang paling tidak punya foto-foto dalam pementasan drama Dhemit itu ..
Ketika tirai dibuka, lampu menyala, aku hanya berdiri di sisi kiri panggung sambil meremas tanganku yang dingin. Tidak bisa banyak bicara, kecuali percaya bahwa mereka (artis-artisku) akan melakukan yang terbaik.
Aku sangat berterimakasih kepada : Mas Erang (http://www.facebook.com/erang.theodorus?fref=ts) sebagai guru yang luar biasa, mengajari banyak hal, dari konsep bloking, lighting sampai musik. mas Erang yang lima menit sebelum pertunjukan masih sempat menemani kegalauanku dan meyakinkanku bahwa semua pasti bisa jadi yang tebaik dari proses yang sudah kami jalani.
Musik mulai masuk, penonton terlihat sedikit riuh dan Suli (Widyaningsih) muncul sebagai pembuka adegan di babak pertama. Aku semakin berdebar, beberapa orang di setwing membiarkanku dan maklum.
Kemudian kepada Mas Bayu ( http://www.facebook.com/bayubiasasaja?fref=ts) yang luar biasa edan bisa mencairkan semua suasana terutama saat setting. Aku ingat ketika seminggu sebelum pementasan Mas Bayu telpon dan bilang, "Nafil, aku izin pulang ya, Ibuku sakit." Rasanya begitu tidak enak membuat Mas Bayu sampai harus izin untuk pulang. Lalu situasi sedikit memanas, banyak perkara-perkara yang membuatku menuju puncak kepusingan. Satu-satunya ide yang muncul adalah mengirim pesan pada Mas Bayu, berharap bisa sedikit terhibur dan benar. Semua selalu bisa dikerjakan, begitu selalu kata Suhu Bayu. Tapi keajaiban itu datang ketika tanggal 30 November Mas Bayu kembali menampakkan batang badannya. Terimakasih Mas Bayu untuk alkohol yang selalu habis kau tenggak. :)))
 Pak Rajeg (Miko) kemudian masuk, adegan pertama adalah Pak Rajeg marah-marah pada Suli. Aku takut pada artikulasi Miko, biasanya ada beberapa kata yang mblibet tapi ajaib hari itu semua lancar sekali. Dan ketika Sawan (Dimas masuk) aku semakin berdebar. Babak pertama segera berakhir.
Yang selanjutnya buat Mas Becak (http://www.facebook.com/yudhi.becak.3?fref=ts) yang walaupun sibuk selalu menyempatkan buat mendampingi proses setting kami. Kalau tidak ada Mas Be, mungkin itu fogging dan berbagai macam alatnya tak bisa kami dapat dengan mudah. Dan untuk jurus menyampur seven up sama yang harganya 10 ribuan itu, lumayan juga, aku tahu komposisi yang pas sekarang. 
Lampu blackout, dan Gendruwo (Genjik), Wilwo (Gembul), Kuntilanak (Tya) dan Egrang (Lintang) mulai sibuk mempersiapkan diri. Dan mereka mulai masuk, lampu kembali menyala.
Terus, buat Mas Baim (https://twitter.com/muhaibra) yang sudah menemani proses lighting, dari nyari yang paling murah sampai menemani waktu kecewa pas ambil lampu. Maaf ya, waktu itu aku tidak bermaksud memperlihatkan wajah kecewa, tapi sewa mobilnya udah mahal. -_- 
Buat Mas Sondang ( http://www.facebook.com/rocksambodo?fref=ts ) yang juga mengurusi lighting yang galak banget, yang suka marah-marah, yang suka misuh, yang pelit, yang menyebutku "perempuan berjakun", yang pas tanggal 3 nyari filter tapi karena aku stress jadi nyari sendiri, yang nanya sama aku tapi aku lagi pusing langsung bilang: "yowis, rasah dipikir." Terimakasih ya. :)))
Mas Baim sama Mas Sondang, makasih juga setelah tanggal 3 ketika aku dirundung masa keseloan kalian bersedia dengan terpaksa aku ikutin kemana pun. :p 
Adegan 2 berjalan, Jin Preh (Hoho) masuk ke panggung. Tanganku semakin dingin, dialog demi dialog meluncur. Aku menerima pesan dari beberapa teman yang tidak bisa masuk panggung, aku tidak bisa membantu, jantungku jauh lebih butuh bantuan agar tidak copot dari sarangnya.
Buat Kakak Jack Tampan (https://twitter.com/jckoben) makasih sekali atas segala macam kerepotan yang sedia dikorbankan buat kami. Terimakasih atas kedatangan di latihan, ngajarin latihan buat pemanasan, permainan biar fokus dan segala macam tetekbengeknya. Juga terimakasih buat campuran sandynya yang (2,5 jam waktu diperlukan untuk mendapat warna yang cocok), buat jurus menganyam gedegnya. Juga buat perintah membeli 5 kg cat yang belum terpakai itu. -_- Pokoknya makasih, makasih dan makasih !!!! :p
 Pingpong dialog babak 2 semakin cepat oleh rasa-rasaku, seperti getaran tanganku yang semakin tak terkendali. Mataku tak bisa lepas dari pergerakan para dhemit, yang lain disekitarku sibuk sama fogging dan kipas angin. Tuhan, jangan buat jantungku copot.
Kepada Uzek, Encang, sama Gilang (yang aku tidak tahu sosmednya secara tepat) makasih karena kalian sangat setia pada patlikur teater sejak awal home produksi. Encang, semoga cintamu segera diterima. Amin. Uzek, kamu pahlawan pokoknya! aku masih ingat ketika satu jam sebelum pementasan Uzek sama mas Bayu masih sibuk mencari akar buat aksen pohon Preh. Pohonmu itu sangar Zek, pokoknya ketidak tiduranmu itu sangat bermanfaat. Dan buat Gilang, makasih sudah mewakiliku buat memotong ranting pohon prehnya. Aku salut, dihujan yang lebat itu kamu berhasil memotong beberapa ranting dengan tubuh kurus keringmu. :p
Adegan kedua berakhir ketika Jin Preh masuk ke setwing. Lalu babak ketiga dimulai ketika anak sesepuh desa (Dila) keluar dari rumah dan sesepuh desa (Setiawan) masuk dari setwing kiri.
Buat Mas Doni ( http://www.facebook.com/dheoDOeniNI?fref=ts) yang baru dua minggu sebelum pentas aku hubungi buat ngisi musik latar terimakasih sekali. Coba tidak ada biola dan alat musikmu itu yang entah apa namanya itu, mungkin pementasan akan sangat kacau. 
-masih bersambung-







Rabu, 14 November 2012

Rambat Jalar

Kepada kucing-kucingku di rumah ..
Mungkin aku harus menuliskan ini kepada mereka. Aku harus menulis, sama seperti aku harus makan. Dan pada lembar yang ini aku diburu kebimbangan tentang kepada siapa tulisanku akan kubuat. Kucing-kucingku, apa kabar kalian? Beberapa minggu tak melihat kalian. Kucingku, dengarkan, di sini aku sedang belajar banyak hal. Memang tak selamanya aku serius, banyak kali cuma aku habiskan dengan beberapa hal tidak penting. Aku kadang iri kepada kalian, kalian tak perlu belajar banyak hal. Tinggal hidup dan mengeong saja. Sementara aku? Ah, aku tahu pada titik ini kalian pun iri padaku kan? Setidaknya aku bisa pergi kemana pun sesukaku. Kucing-kucingku, hiduplah bahagia, hiduplah sejahtera. Bukankah kata Cu Pat Kai, cinta itu deritanya tiada akhir sementara kalian tidak mungkin jatuh cinta bukan? Jadi kalian tak kenal kata menderita.

Minggu, 28 Oktober 2012

Suara-suara pada Jum'at Pagi

        Sunyi. Aku menoleh ke luar jendela yang begitu sepi. Tidak ada angin berbisik, tak ada burung mencercit   , bumi terasa bisu dan kelu. Hampir satu jam aku tenggelam dalam pagi yang begitu hening. Tulang-tulang kakiku terasa lemas, bahkan rasanya aku tak punya kekuatan mengangkat pantatku dari kursi kursi kayu di rumahku.
            Beberapa suara tiba-tiba menelusup ketelinga, dari berbagai lintasan waktu.
            “Kita dikejar waktu, sebulan lagi kita harus pentas!!”
            Suara pertama terdengar keras, terucap lantang dari seorang perempuan. Aku bisa membayangkan wajah si empunya suara yang akhir-akhir ini mengejarku dengan jadwal pementasan.

Selasa, 16 Oktober 2012

Maghrib

       Ada salah satu tokoh novel yang aku terkesan sekali padanya. Cobaan hidupnya sangat berat sampai ia merasa kematian adalah jalan keluarnya. Iya, kematian terlalu menggoda untuknya. Tapi ia melawan rasa ingin matinya sekuat tenaga. Ia mencoba bertahan dengan zikirnya, zikir yang sangat sederhana ia kenal. Nadira namanya, Nadira Suwandi. (Dalam novel 9 dari Nadira karya Leila S Chudori).
***
-Tuhan, aku juga sedang mencobanya.. mencoba melawannya,,-

Kamis, 27 September 2012

Mengeja Pagi


             Aku tidak bermaksud membuat pagi ini menjadi begitu kacau.  Mata anak-anak kos memandangku aneh dan sedikit jijik, sementara aku hanya bisa nyengir dan berjalan pelan keluar kamar mandi. Sekali lagi pagi ini, aku tidak bermaksud tertidur di kamar mandi. Aku mulai mendengar sindiran anak-anak kos mengeras dan memanas ditelinga. Benar, bukan keinginanku untuk terlalu nyaman tertidur di kamar mandi.
            Aku yakin, tidak akan ada yang mau punya kebiasaan sepertiku, begitu juga aku. Aku sama sekali tidak pernah berharap punya kebiasaan tertidur di kamar mandi dan merasa nyaman di sana.  Bagaimana aku harus mengungkapnya, aku bahkan merasa bingung dengan keadaanku. Setiap pagi aku bangun, secara tidak sadar dan sadar aku akan melangkah ke kamar mandi, jongkok di kloset dan tidur lagi. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukannya, tapi ujung-ujungnya aku akan kembali ke kebiasaanku.
            Kelak, aku tahu kamu juga akan sangat tidak suka pada kebiasaanku ini. Tenang, aku akan sedikit demi sedikit berubah. Untukmu apa pun akan kulakukan bahkan dengan tidak menjadi diriku sendiri. Tapi, setidaknya aku mohon ajari aku dulu. Ajari aku mengeja pagi, sepertimu melakukannya.

Senin, 17 September 2012

3 Ekor Nyamuk dan Perasaannya I

       Hari ini masih seperti kemarin dan kemarinnya lagi, terlalu monoton. Tapi ada yang sedikit, -lumayan berbeda-. Perkenalanku dengan 3 ekor nyamuk yang sempat singgah di lengan kananku, pipi kiriku, telapak kakiku dua-duanya dan kalau tidak salah punggungku membuatku semakin susah tidur. Mereka masih saja ribut, saling berpendapat. Terjadilah percecokan sengit antara ketiganya, saling berebut perhatianku. Ketiganya merasa benar semua, aku bingung ingin membela yang mana. Dan sedari tadi pun aku hanya diam, menikmati gigitan mereka yang penuh amuk amarah, gatal sekali.
         Biar lebih mudah, aku akan memperkenalkan 3 ekor nyamuk ini pada kalian. Mari kita kenali lebih jauh lika-liku kehidupan mereka disempitnya kamar kosku. Nyamuk pertama terdeteksi berjenis kelamin laki-laki (tidak usah mencoba mencari tahu aku mengenali kelaki-lakiannya darimana, ini jelas dari lokasi gigitan yang dia pilih) namanya Bobo. Jangan memandang dari segi namanya yang terkesan unyu, dia tidak unyu sama sekali, sangat keras kepala. Nyamuk kedua terdeteksi perempuan, tubuhnya proporsional dengan bentuk kaki yang lumayan indah, namanya Nene. Nene dalam tatanan hidup kenyamukan berperan lumayan banyak, dia adalah pemberi informasi apabila target (adalah saya) sudah lengah dan siap disantap. Nyamuk yang ketiga juga perempuan, namanya Laila. Laila adalah nyamuk perempuan paling sembarangan, dia tak pernah menggubris kerja Nene, dia menggigit tanpa mempedulikan kondisi target. Dan obrolan mereka malam ini sedikit menggangguku yang sedari tadi berusaha berpura-pura tidur.

Nene: "Laila, jangan suka menggigit sembarangan! Edan kamu, target belum lengah sudah main sedot saja! Pake etika dong,"
Laila: "Cerewet kamu Ne, resiko ditanggung aku sendiri kok. Aku mengenal target ini dengan baik, dia akan ikhlas menyumbangkan darahnya padaku. Dia lumayan baik,"
-Aku tersenyun, Laila benar sekali, aku memang baik,-
Nene: "Kamu sukanya menyambar jatah orang juga, bukannya dulu kita sepakat kalau bagianku itu telapak kaki kiri?"
Laila: "Nha kan, kamu mulai mencari-cari kesalahanku,"
Nene: "Kamu memang salah, jangan mengelak lagi atau kamu aku bawa ke dewan mahkamah pernyamukan di kos ini?"
Bobo: "Bisakah kalian berdua menikmati makan malam kalian dengan sedikit khidmad>"
Laila: "Setuju deh sama kamu Bo, Nene memang kebanyakan omong,"
Nene: "Oh, mulai mau menyerangku bersama-sama lagi? Cih, cara lama!"
-Oke, jadi dulu-dulunya(sekitar 2 atau 3 hari yang lalu) mereka juga sempat bertengkar hebat. Ternyata Nene dan Bobo sempat terjebak cinta lokasi, namun Laila datang mengacaukannya. Nene memiliki dendam pribadi pada Laila, dramatis sekali,-
Bobo: "Bukan begitu dik Nene, abang cuma ingin kalian makan dengan tenang agar tercipta keharmonisan kita yang dulu lagi,"
Laila: "Sudahlah, kalian tidak usah bernostalgia di depanku!"
Nene: "Siapa sudi bernostalgia dengan makhluk itu,"
Bobo: "Iya iya tidak ada yang bersedia, mari kita makan malam lagi,"
Nene: "Bang, paksa saya bernostalgia dong!!!"
Bobo: "Lah??"
Laila: "Tuh kan, kelihatan yang gatel siapa?"
Nene: "Yang gatel ya jelas yang sukanya nyampurin orusan orang,"
-Sambil marah gigitan Nene samasekali tak terkedali, berapa liter darahku berkurang, T.T-
Laila: "Siapa ya? Situ jelas-jelas minta digaruk sama Bobo,"
Bobo: "Sudah-sudah, tidak ada yang gatel. Jangan ribut terus nanti target kita bangun.
-Aku belum tidur, bego-
Nene: "Bo, akar permasalahnnya memang kamu kok! Bela salah satu dong, jangan cuma nyari aman! Kampret kamu,"
Laila: "Pancen kok, kamu Bo yang gatel sebenernya. Jadi nyamuk kok sukanya ditengah-tengah! Pengecut kelas nyamuk kamu!"
Bobo: "Lah kan, jadi aku yang gatel itu begimana??"
Nene: "Coba dari awal kamu jelas, setidaknya jelas melukai atau jelas tidak melukai maka kami tidak akan terluka begini! Kamu ini gatel sekali rupanya,"
Laila: "Atau setidaknya coba dari awal kamu tidak pengecut untuk terus berada pada titik aman maka ekologi hidup pernyamukan kita tidak akan menjadi begini rumit Bo,"
Bobo: "Welha aku jadi bingung,"
-Sebenarnya perasaan nyamuk-nyamuk perempuan itu terasa sangat imajiner, Bobo bahkan terlihat tak tahu apa-apa-
Nene: "Dasar kegatelan! Kamu menghancurkanku Bo!"
Laila: "Menghancurkanku juga!"
Bobo: "Aku tidak gatel, kalian salah mengerti. Tunggu dulu, jangan keburu nangis disini, suara ngiung-ngiung kalian bisa membangunkan tuan putri,"
-Bobo memang pintar merayu,-
Laila: "Tidak usah mencari alasan kamu, kalau sudah kepepet saja pengennya lari dari masalah,"
Bobo: "Laila, jangan  memperkeruh suasana,"
Laila: "Kamu jangan kegatelan!"
-Watdezingggg,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, aku yang gatel nyamuk-nyamuk somplakkk,-
Nene: "Sudahlah, aku memutuskan pergi saja, kamar ini sudah tidak kondusif lagi untukku,"
Laila: "Jangan Ne, mari kita baikan saja. Apa kamu tega target kita kesepian tidak ada kita?
Nene: "Sudahlah Laila, aku sudah memaafkanmu tapi aku tidak mau di sini lagi,"
-Wah, kasian ni si Nene-
Bobo: "Ne, pikirkan matang-matang dulu,"
Laila: "Iya Ne, terlalu banyak kenangan di sini,"
Bobo: "Setidaknya pernah ada "kita" di sini Ne,,,,,"
Laila: " Iya Ne, KITA, aku, kamu dan dia!"
Nene: " Ah, kapan aku bisa beranjak dari kenangan kalau untuk melangkah keluar saja aku diburu ketakutanku sendiri,"
-Dan rasanya kamar ini menjadi begitu hening- Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

Senin, 10 September 2012

1002 Mimpi Jumlahnya

        Ada yang mengendap di kepala, tumbuh dan terus tumbuh secara menakutkan. Iya, banyak sekali ingatan yang masih saja tak bisa dihapus atau sekedar dianggap tak bermasalah. Masih saja, begitu mengganggu rasanya. Ingatan ini seperti mimpi-mimpi buruk yang menghantuiku kemana pun. Aku jengah, muak!!
          Bayangkan saja, jika aku sedang tersenyum senang bisa tiba-tiba berhenti jika mimpi buruk itu datang. Jika aku sedang sedih akan semakin sedih jika mimpi buruk itu kembali menari berputar-putar di kepala. Aku benci mengingat yang tak ingin aku ingat. Aku benci menyadari beberapa hal benar-benar terjadi, aku benci menyadari aku berubah, aku benci menyadari kita telah sama-sama menjadi lain.