Aku telah berjanji, pada tetes-tetes embun pagi
aku tak akan menangis
bila kau eja huruf-huruf berlarian di saku celanamu
lalu katamu, aku lupa pada janji
sementara huruf-hurufmu telah menjadi kalimat-kalimat pragmatik
Bacakan padaku semua!!
semua yang kau punya.
Kau baca dengan gamblang semua kalimatmu
tanpa jeda, tanpa koma
kau baca dan aku menganga
Kau baca dengan begitu jumawa
Sementara aku,
mengeja luka dengan terbata..
Bacaaa yuuukkk ....
Belajar ,, dari yang biasa .. biasa saajjjaaaa ,, sampe jadi luarr biasaa ..
Rabu, 20 Maret 2013
Rabu, 30 Januari 2013
What The PUUKK
Masih ingat sama kata-kata begini : "Wah, sekarang kamu menjadi lain ya?"
Aku heran, apa sekarang aku mendadak menjjadi Sailor Moon?? atau sekarang rupaku sudah mirip Merlin Monroe?? Atau jangan-jangan isi kepalaku mendadak Habibie?? Pelisss, aku masihh Napil yang mutlak unyu !!!
--> Apa harus aku nerangin teori perubahan? Ah, itu sudah jadi update-an di mana-mana. Sudah jadi alibi yang basi. Semua dewasa mengerti bagaimana perubahan pasti mengikuti setiap orang. Kalo ada orang di dunia ini yang selalu sama diberbagai waktu berbeda aku percaya bahwa dia gila.
Atau mungkin beberapa orang terlalu mengharap aku menjadi apa yang sesuai dikepala mereka, sampai kadang keluar kalimat : "wah, kamu sejak kapan "begini"?" atau "Kamu sekarang jadi begitu ya?"
Hadeh, kadang bingung harus menjawab apa atau berekspresi seperti apa. Atau kalau pertanyaan-pertanyaan retoris seperti itu terlalu berulang kali terulang dari mulut yang sama, kadang, aku ingin melempar si penanya dengan apapun barang tumpul di muka bumi. #Upssss, soryy, lebay yang tadi. Lebih banyak biasa aja sih, ya, sedikit menggerutu kadang. Heran karena beberapa orang tidak siap dengan perubahan. Terus guweh harus gemana getooo?????
--> ini bbukan percobaan pembelaan diri, tapi buat apa aku tegaskan?? Iya, ini percobaan pembelaan diri. atau aku bingung jalan mana yang harus aku terangkan agar pertanyaan-pertanyaan semacam tadi tidak terlontar.
Hahahhahaha ...
Persepsi lagi, persepsi lagi. Tidak mencoba membohongi diri sendiri bahwa kadang persepsi terlalu menyudutkan. Dan terlalu sering menuntut lebih mungkin. Ayolah,, hidup sendiri itu tidak mungkin, hidup tanpa persepsi itu mustahil tapii .. tapii .. tapi ya kudu dijalani ..
Tenang saja ya kalian-kalian yang sangat perhatian padaku. Aku mendengarkan kok, cuma kadang bagaimana ya aku menjelaskannya, agak susah. Kadang seseorang memiliki ukuran sendiri tentang bagaimana sewajarnya perubahan mengikuti mereka. Atau kadang (aku) memilih berubah dengan berbagai macam buntut yang kurang aku pikirkan. Ini bukan pernyataan penolakan pada persepsi dan pendapat. Ini hanya sebatas sedikit sudut pandang ..
Kamis, 17 Januari 2013
Bagaimana ??
Jam Empat pagi ..
Aku tidak mengerti, menjelaskan pun rasanya hanya akan menjadi sebuah ketidakperluan .. karena kau tak pernah bertanya ..
Tapi.
Aku (pikir) kau salah memahami ..
Aku (harap) kau mau membuka matamu, atau sekedar mencoba menafsirkan lebih luas ..
Aku sudah mencoba membahasakan dengan cara yang paling halus ..
Dan masalah (lagi) persepsi memang urusanmu ..
Selamat pagi
Kepadamu, (yakin), kali ini jelas kepadamu ..
Yang entah dengan bahasa apa lagi bisa kubuat mengerti ..
Yang entah dengan tanda apa lagi bisa merasakan ..
Aku (begini) padamu ..
Selamat pagi ..
Aku tidak mengerti, menjelaskan pun rasanya hanya akan menjadi sebuah ketidakperluan .. karena kau tak pernah bertanya ..
Tapi.
Aku (pikir) kau salah memahami ..
Aku (harap) kau mau membuka matamu, atau sekedar mencoba menafsirkan lebih luas ..
Aku sudah mencoba membahasakan dengan cara yang paling halus ..
Dan masalah (lagi) persepsi memang urusanmu ..
Selamat pagi
Kepadamu, (yakin), kali ini jelas kepadamu ..
Yang entah dengan bahasa apa lagi bisa kubuat mengerti ..
Yang entah dengan tanda apa lagi bisa merasakan ..
Aku (begini) padamu ..
Selamat pagi ..
Selasa, 08 Januari 2013
Jam 3 Pagi Paling Sial
Saya kira saya mengidap sebuah penyakit, mulai tumbuh entah kapan dikepala saya. Dan saya tidak suka dengan penyakit saya ini, dia menggerogoti sistem yang sudah ada sebelumnya. Saya terlalu bingung menjelaskan jenis penyakit saya. Tapi, saya toh tidak harus menjelaskan apa penyakit saya ini. Apa pentingnya? begitulah kira-kira penyakit saya, penyimpulan pada sesuatu yang seringkali sangat egois dan buru-buru. Memastikan dan tidak memastikan suatu hal sekehendak saya dan penginterpretasian yang busuk. Hey diri saya, kenapa kamu??????
***
Aku tidak ingin mengecewakan beberapa hal yang mestinya tidak perlu dikecewakan. Aku berada atau tidak berada di sana adalah sebuah rangkaian kejadian dengan alasan-alasan yang (aku) tentunya ikut andil didalamnya. Aku tidak mau mengurung diriku dalam persepsi gila yang munculnya datang dan pergi. Aku kenapa? Atau kenapa aku?
Sudah jam 3 pagi dan aku belum bisa tidur. memang biasanya pun sulit tidur. Aku sudah lama tidak menulis, lama tidak membaca, lama tidak autis, lama tidak berfikir luas, lama menjadi sempit, lama termonoton oleh sudut pandang dan lama tak sadar. Dan aku dikepung kegelisahan yang entah dari mana saja datangnya.
Bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjadi atau tidak menjadi, untuk memilih atau tidak memilih, untuk terada atau tak terada. Lalu kenapa aku mengecewakan yang (setiap orang) berhak berada di jalur yang mana? Aku sedang gila, itu saja mungkin.
***
Saya mudah curiga, mudah teromabang-ambing dan saya labil. Saya belum habis menghabiskan sebatang rokok yang saya sedari tadi pun malas menghisapnya. Saya mau bercerita pada sepasang telinga yang entah di mana letaknya, lalu tiba-tiba saya menjadi sangat sedih. Saya kira, saya salah mengira. Lalu saya ingat tentang tulisan, saya mau menulis saja. Meskipun produk yang begini pasti akan lahir dengan sangat asal-asalan. Apa masalahnya? Tidak ada hei Saya!!!
***
Harusnya aku ingat kata-kataku sendiri bahwa hidup tanpa ada kebencian pada orang lain itu seksi. Ah, betapa tidak seksinya aku. bentukku mungkin sudah begitu tak menyenangkan dilihat dari mana pun kalau isi kepalaku begini. Aku mulai menyalahkan kepalaku, di sana tumbuh ketidak sopanan pola pikir. Aku mau sembunyi saja dari kepalaku, tapi ke mana????
Aku kecewa pada Dia 1 tanpa alasan yang jelas. Aku mengecewakan sikapnya, mengecewakan kata-katanya, mengecewakan entah apa sebenarnya. Padahal Dia 1 sebenarnya pun tak mengerti kenapa aku harus kecewa. Hei, bagaimana mungkin aku bisa mendikte persepsi??
Aku kecewa juga pada Dia 2, kali ini aku pikir aku memiliki alasan yang kuat. alasan 1 dan alasan 2 aku kemukakan lalu muncul pertanyaan. Kenapa aku jadi begitu mudah kecewa padahal setiap orang dibatasi dinding-dinding keterbatasan mereka sendiri. Bukankah begitu juga denganku? Ahh..
***
Saya pikir, dengan atau tidak dengan saya berusaha sekuat tenaga mengeja yang sebenarnya terjadi semuanya akan menjadi jelas sendiri. Saya kira, pada akhirnya, saya akan segera paham tentang bagaimana kepala saya dan dunia disekitarnya. Saya rasa, sebenarya, saya ini terlalu berusaha seluas mungkin tanpa memperhitungkan dengan tepat. Saya sudah cukup mengerti. Jam setengah 4 pagi. Saya sedang berada dititik seperti ini, belajar, bukan begitu namanya?
***
Selamat pagi ..
Entah kepada apa, entah kepada siapa
mungkin pada kegelisahan
mungkin kepadaku yang dihantam jemu
atau mungkin kepadamu yang dipukul semu
Selamat pagi ..
Bukankah pagi masih selalu begini
menjadi jarak yang nyata
bahwa siang dan malam itu berbeda
menjadi penegas yang jujur
bahwa pekat dan terang itu berseberangan ..
Selamat pagi ..
Kepada burung, kucing, semut, kecoa, lintah, ikan, ayam
kepada bayam, kangkung, kubis, terong
kepada tanah, pasir, batu, kapur
kepada kertas, kepada tinta
kepada coretan-coretan
Selamat pagi ..
Kepadamu yang mungkin akan terlambat tahu ....
Kamis, 03 Januari 2013
ANALOGI ..
Jika dengan mengatakan "aku lupa", maka aku akan benar-benar melupakannya pasti aku telah mengatakannya,, jauh sebelum kamu mengisyaratkannya ..
***
Seperti biasanya tiap pagi aku membangunkanmu, hari ini aku menyapamu meski tak sama seperti biasanya. Biasanya? Apa ada yang salah dengan kebiasaan yang aku berikan. Di mana letak salahnya? Aku rindu membangunkanmu, rindu mengingatkanmu ini itu, rindu sedikit memarahimu. Sementara kamu merasa mulai menyukai kehilangan kebiasaan itu. Ah kamu, adakah yang salah dengan kebiasaan yang menyamankan aku? Aku tak mengerti.
Coba saja kamu sedikit membuka matamu, bukan, hatimu itu. sudah berapa jauh aku mencoba menyelaminya? meskipun aku terdampar kemudiam. Kamu, padamu aku berlayar meski tak pernah sampai tujuan. Dan coba saja kamu tahu bahwa aku masih begitu berharap ada sedikit yang tersisa dari pelayaranku di sana. Semua jadi begitu semu, dan lama-lama menjadi benar-benar tak ada.
Aku akan berhenti mengemis, lupa caranya meminta agar kamu mengerti. Aku telah lama berhenti merintih, telah mulai lupa caranya mengiba. sementara kamu semakin jauh saja dalam perjalananmu. Apa lagi? Apa lagi yang tak kuberi hingga dalam setiap cerita kita selalu tersisa jeda yang kamu sesalkan? Sungguh, aku tak mengerti.
***
Jika dengan melupakanmu aku akan kembali menjdi diriku yang dulu ... yang tak pernah belajar mencintaimu ...
***
"Apa aku kurang mengalah?"
"Tidak,"
"Apa aku kurang mengerti?"
"Bukan itu,"
"Lalu kenapa denganku?"
"Aku tidak mengerti, hanya saja mungkin harus begini."
Tidakkah kamu tahu bagaimana rasanya menjadi aku? Bagaimana rasanya mendengar itu dari mulutmu? Kamu tak tahu, kamu tak tahu bagaimana kesendiriannya menjadi aku. Kamu tidak akan mengerti karena disekelilingmu hanya ada ramai. Bukan seperti di sini, kamu tak akan pernah mengerti !!
***
Jika saja dengan tak melihatmu menghapus yang lalu, yang berlalu, yang terlalu .. aku, aku yang tak bisa menjadi jika ...
GEK BERSAMBUNG DIL, RUNG ISO TAK RAMPUNGKE... SESUK MANEH ..
Selasa, 18 Desember 2012
Pada Sebuah Sore
"Kepada
kamu, yang lupa ketika pernah menebarkan tawa dibibirku"
Hari ini aku masih menatapmu, seperti biasanya, kamu lupa menoleh kepadaku. Sudah berapa waktu berlalu? Menghitungkah kamu? Sudah berapa waktu -tanpa aku, tanpa kamu- lepas dari kita? Aku menghitungnya, dengan sangat baik .....
Ah, sepi di sini ,, sepiiii ,,,,
dan sepi !!!! ......
--------- dihatiku ----------
Bagaimana di sana?? bagaimana di sana ??
bagaimana di hatimu ???
tak juga sepi kah ??
"Kepada kamu, yang lupa ketika pernah mengalirkan luka dimataku"
Apa kabar kamu? Apa kabar hari-harimu? Apa kabar pagimu? Siangmu ? Soremu? Malammu?
Apa kabar semua tentangmu? Tanpa aku?
"Kepada kamu, yang pernah begitu dekat dan menjadi begitu jauh dari ku (hatiku)"
Kita mungkin telah sama-sama menjadi jauh, telah sama-sama mulai menjadi terbiasa tanpa satu sama lain, telah sama-sama menjadi lain ...
- Menjadi lain? (-bukan aku-)
Selamat menjadi lain, selamat menjadi jauh, selamat mengenal yang baru (atau yang lama) ..
Dan aku akan segera lupa atau melupakan atau terlupa atau mungkin dilupakan ..
"Kepada cerita, yang pernah menukik diduniaku dan duniamu, beberapa waktu lalu ... "
Aku pernah menuliskan beberapa baris tentang kita, tentang waktu yang kita lalui .. sampai mungkin nanti aku akan menulis tentang kalian, tentang waktu yang kalian lalui ..
selamat berlalu ..
"Kepada hatiku"
When you try your best but you don't succed ....
When you feel so tired but you can't sleep ....
When you lose something you can't replace ...
When you love someone but it goes to waiste ...
Could it be worse ?????????
----------- > buat Dila .... satu, duaaakkk, tigaaaakkkk ... senyum yakk !!!!!!!!!!!!
Senin, 10 Desember 2012
Tentang 3 DESEMBER 2012
Mungkin, dari 24 orang yang tergabung dalam Patlikut teater, akulah yang paling tidak punya foto-foto dalam pementasan drama Dhemit itu ..Ketika tirai dibuka, lampu menyala, aku hanya berdiri di sisi kiri panggung sambil meremas tanganku yang dingin. Tidak bisa banyak bicara, kecuali percaya bahwa mereka (artis-artisku) akan melakukan yang terbaik.
Aku sangat berterimakasih kepada : Mas Erang (http://www.facebook.com/erang.theodorus?fref=ts) sebagai guru yang luar biasa, mengajari banyak hal, dari konsep bloking, lighting sampai musik. mas Erang yang lima menit sebelum pertunjukan masih sempat menemani kegalauanku dan meyakinkanku bahwa semua pasti bisa jadi yang tebaik dari proses yang sudah kami jalani.Musik mulai masuk, penonton terlihat sedikit riuh dan Suli (Widyaningsih) muncul sebagai pembuka adegan di babak pertama. Aku semakin berdebar, beberapa orang di setwing membiarkanku dan maklum.
Kemudian kepada Mas Bayu ( http://www.facebook.com/bayubiasasaja?fref=ts) yang luar biasa edan bisa mencairkan semua suasana terutama saat setting. Aku ingat ketika seminggu sebelum pementasan Mas Bayu telpon dan bilang, "Nafil, aku izin pulang ya, Ibuku sakit." Rasanya begitu tidak enak membuat Mas Bayu sampai harus izin untuk pulang. Lalu situasi sedikit memanas, banyak perkara-perkara yang membuatku menuju puncak kepusingan. Satu-satunya ide yang muncul adalah mengirim pesan pada Mas Bayu, berharap bisa sedikit terhibur dan benar. Semua selalu bisa dikerjakan, begitu selalu kata Suhu Bayu. Tapi keajaiban itu datang ketika tanggal 30 November Mas Bayu kembali menampakkan batang badannya. Terimakasih Mas Bayu untuk alkohol yang selalu habis kau tenggak. :)))Pak Rajeg (Miko) kemudian masuk, adegan pertama adalah Pak Rajeg marah-marah pada Suli. Aku takut pada artikulasi Miko, biasanya ada beberapa kata yang mblibet tapi ajaib hari itu semua lancar sekali. Dan ketika Sawan (Dimas masuk) aku semakin berdebar. Babak pertama segera berakhir.
Yang selanjutnya buat Mas Becak (http://www.facebook.com/yudhi.becak.3?fref=ts) yang walaupun sibuk selalu menyempatkan buat mendampingi proses setting kami. Kalau tidak ada Mas Be, mungkin itu fogging dan berbagai macam alatnya tak bisa kami dapat dengan mudah. Dan untuk jurus menyampur seven up sama yang harganya 10 ribuan itu, lumayan juga, aku tahu komposisi yang pas sekarang.Lampu blackout, dan Gendruwo (Genjik), Wilwo (Gembul), Kuntilanak (Tya) dan Egrang (Lintang) mulai sibuk mempersiapkan diri. Dan mereka mulai masuk, lampu kembali menyala.
Terus, buat Mas Baim (https://twitter.com/muhaibra) yang sudah menemani proses lighting, dari nyari yang paling murah sampai menemani waktu kecewa pas ambil lampu. Maaf ya, waktu itu aku tidak bermaksud memperlihatkan wajah kecewa, tapi sewa mobilnya udah mahal. -_-
Buat Mas Sondang ( http://www.facebook.com/rocksambodo?fref=ts ) yang juga mengurusi lighting yang galak banget, yang suka marah-marah, yang suka misuh, yang pelit, yang menyebutku "perempuan berjakun", yang pas tanggal 3 nyari filter tapi karena aku stress jadi nyari sendiri, yang nanya sama aku tapi aku lagi pusing langsung bilang: "yowis, rasah dipikir." Terimakasih ya. :)))
Mas Baim sama Mas Sondang, makasih juga setelah tanggal 3 ketika aku dirundung masa keseloan kalian bersedia dengan terpaksa aku ikutin kemana pun. :pAdegan 2 berjalan, Jin Preh (Hoho) masuk ke panggung. Tanganku semakin dingin, dialog demi dialog meluncur. Aku menerima pesan dari beberapa teman yang tidak bisa masuk panggung, aku tidak bisa membantu, jantungku jauh lebih butuh bantuan agar tidak copot dari sarangnya.
Buat Kakak Jack Tampan (https://twitter.com/jckoben) makasih sekali atas segala macam kerepotan yang sedia dikorbankan buat kami. Terimakasih atas kedatangan di latihan, ngajarin latihan buat pemanasan, permainan biar fokus dan segala macam tetekbengeknya. Juga terimakasih buat campuran sandynya yang (2,5 jam waktu diperlukan untuk mendapat warna yang cocok), buat jurus menganyam gedegnya. Juga buat perintah membeli 5 kg cat yang belum terpakai itu. -_- Pokoknya makasih, makasih dan makasih !!!! :pPingpong dialog babak 2 semakin cepat oleh rasa-rasaku, seperti getaran tanganku yang semakin tak terkendali. Mataku tak bisa lepas dari pergerakan para dhemit, yang lain disekitarku sibuk sama fogging dan kipas angin. Tuhan, jangan buat jantungku copot.
Kepada Uzek, Encang, sama Gilang (yang aku tidak tahu sosmednya secara tepat) makasih karena kalian sangat setia pada patlikur teater sejak awal home produksi. Encang, semoga cintamu segera diterima. Amin. Uzek, kamu pahlawan pokoknya! aku masih ingat ketika satu jam sebelum pementasan Uzek sama mas Bayu masih sibuk mencari akar buat aksen pohon Preh. Pohonmu itu sangar Zek, pokoknya ketidak tiduranmu itu sangat bermanfaat. Dan buat Gilang, makasih sudah mewakiliku buat memotong ranting pohon prehnya. Aku salut, dihujan yang lebat itu kamu berhasil memotong beberapa ranting dengan tubuh kurus keringmu. :pAdegan kedua berakhir ketika Jin Preh masuk ke setwing. Lalu babak ketiga dimulai ketika anak sesepuh desa (Dila) keluar dari rumah dan sesepuh desa (Setiawan) masuk dari setwing kiri.
Buat Mas Doni ( http://www.facebook.com/dheoDOeniNI?fref=ts) yang baru dua minggu sebelum pentas aku hubungi buat ngisi musik latar terimakasih sekali. Coba tidak ada biola dan alat musikmu itu yang entah apa namanya itu, mungkin pementasan akan sangat kacau.-masih bersambung-
Langganan:
Postingan (Atom)