Selamat malam Ran ..
Pertemuan denganmu selalu membekaskan luka. Aku masih menyimpan hijau matamu,seperti lembah Baliem yang diceritakan sebuah novel yang begitu perawan. Sejak dulu, matamu masih begitu. Ketika tahun-tahun merangkak merubah begitu banyak hal, matamu masih begitu setia .. Ah, Ran .. bagaimana bisa hidup menjadi begitu sederhana di sana, matamu. Seperti sebungkus permen ratusan rupiah yang murah.
Jalan menuju rumahmu telah berubah, setidaknya ban sepeda motorku tak perlu lagi bocor dulu sebelum sampai.. paving-paving dan aspal telah mempermudah semuanya. Lalu kau menuturkan tentang jalan hidupmu. Haha, dan aku tiba-tiba lelah.
- Lebih baik membuang banyak hal, ketimbang terluka oleh banyak hal.-
Aku? Masih kekanakan yang tak bisa membayang bagaimana lekuk hitam dihijau matamu. Itu jauh, aku tak bisa mengenal.
Selamat malam Ran, di sini begitu dingin .. semoga tak petnah sedingin hidup (ku) atau (mu).
Bacaaa yuuukkk ....
Belajar ,, dari yang biasa .. biasa saajjjaaaa ,, sampe jadi luarr biasaa ..
Minggu, 11 Agustus 2013
Kamis, 04 Juli 2013
Surat 6
Kepada Tempat KKN
Dapat sinyal di internet di Mangunan itu bahagia sekali.
Ah, ini resah yang berbeda bentuk lagi .. Teman di sebelah saya berisik sekali, kadang saya ingin muntah ..
Dapat sinyal di internet di Mangunan itu bahagia sekali.
Ah, ini resah yang berbeda bentuk lagi .. Teman di sebelah saya berisik sekali, kadang saya ingin muntah ..
Jumat, 14 Juni 2013
Surat 5
Kepada Tuhanku
Selamat dini hari Tuhan. Mungkin Engkau segera merasa lelah karena aku datang lagi, ah Kau tak mengenal lelah bukan? Hari ini rasanya aku ingin banyak bercerita pada Mu. Kau tahu bukan? Aku pandai sekali mengeluh, seperti kebanyakan Umat Mu. Ah, lucu sekali karena Engkau seringkali begitu lucu pada hidupku.
Tuhan, aku tahu. Ini bukan kesalahan Mu. Bukan, ini tentang hidup dan pilihan. Ah, Kau tahu bukan? Cepat atau lambat kegelisahan ini akan segera sampai pada tempatnya. Kebimbangan.
Jangan buat aku berpikir hidup ini tidak berpihak padaku Tuhan, aku mohon .. untuk satu hal itu saja :)
Selamat dini hari Tuhan. Mungkin Engkau segera merasa lelah karena aku datang lagi, ah Kau tak mengenal lelah bukan? Hari ini rasanya aku ingin banyak bercerita pada Mu. Kau tahu bukan? Aku pandai sekali mengeluh, seperti kebanyakan Umat Mu. Ah, lucu sekali karena Engkau seringkali begitu lucu pada hidupku.
Tuhan, aku tahu. Ini bukan kesalahan Mu. Bukan, ini tentang hidup dan pilihan. Ah, Kau tahu bukan? Cepat atau lambat kegelisahan ini akan segera sampai pada tempatnya. Kebimbangan.
Jangan buat aku berpikir hidup ini tidak berpihak padaku Tuhan, aku mohon .. untuk satu hal itu saja :)
Selasa, 21 Mei 2013
Surat 3
Kepada Sari, kucingku yang hilang
Sari, katanya kau hilang? Aku tak percaya.
Kucing secerdas dirimu tak mungkin hilang, kau sengaja menghilangkan diri kah? Ke mana? Apa yang membuatmu sengaja meninggalkan kedua anakmu dan aku? Aku yang menistakan diri dengan begitu menyayangimu (kukira). Adakah yang salah dengan dirimu? Atau kedua anakmu? Atau lagi-lagi aku?
Sari, kau mungkin salah dengan langkah pergimu meski kau urung lalu kemudian ragu. Tapi pergi telah menciptakan jarak, kau, anak-anakmu dan aku. Aku! Sari, aku mencintai kembang telonmu dan ngeong-mu yang selalu terasa mendayu-dayu. Dan kau meninggalkanku begitu saja. Bahkan sekedar menungguku untuk menatap mata kecoklatanmu pun kau tak mau.
Sabtu, 04 Mei 2013
Surat 2
Kepada Nafilah, diri dalam diriku
Sudah jam berapa ini? Ini sudah dini hari Nafil, kenapa belum juga mengantuk? Ayo lekas tidur, kamu masih ingat kan? besok pagi-pagi benar kamu harus mandi dan siap-siap pergi. Jangan tanya ke mana, langkah kaki tidak selalu menginjak tempat yang indah karena kau mengerti tempat itu sebelumnya. Kan?
Ah, kalau kamu masih juga belum mengantuk, aku temani kamu saja ya.
Apa yang akan kita lakukan atau pikirkan atau diskusikan atau rencanakan dini hari yang kelu ini Nafil? Aku ikuti maumu saja ya? Aku tahu sesekali kamu sangat suka dituruti.
Iya baik jika kamu mau aku mendongeng. Dengar baik-baik ya ceritaku. Aku tak pandai mengulang cerita, jika nanti suatu hari kamu meminta cerita yang sama, aku tak kan bisa melakukannya. Nafil, aku juga sama sepertimu tentang cerita atau sudutpandang. Nafil, aku bisa membacamu, sepertimu padaku. Sudah, dengar-dengarlah dulu aku bercerita yaa ..
Namanya bahagia Fil, kamu tahu kan?
Sudah jam berapa ini? Ini sudah dini hari Nafil, kenapa belum juga mengantuk? Ayo lekas tidur, kamu masih ingat kan? besok pagi-pagi benar kamu harus mandi dan siap-siap pergi. Jangan tanya ke mana, langkah kaki tidak selalu menginjak tempat yang indah karena kau mengerti tempat itu sebelumnya. Kan?
Ah, kalau kamu masih juga belum mengantuk, aku temani kamu saja ya.
Apa yang akan kita lakukan atau pikirkan atau diskusikan atau rencanakan dini hari yang kelu ini Nafil? Aku ikuti maumu saja ya? Aku tahu sesekali kamu sangat suka dituruti.
Iya baik jika kamu mau aku mendongeng. Dengar baik-baik ya ceritaku. Aku tak pandai mengulang cerita, jika nanti suatu hari kamu meminta cerita yang sama, aku tak kan bisa melakukannya. Nafil, aku juga sama sepertimu tentang cerita atau sudutpandang. Nafil, aku bisa membacamu, sepertimu padaku. Sudah, dengar-dengarlah dulu aku bercerita yaa ..
Namanya bahagia Fil, kamu tahu kan?
Ingat? saat-saat pertama kamu bisa naik sepeda lalu seharian penuh kamu tak mau berhenti mengendarainya. Ingat? Saat pertama kamu punya keponakan baru? Ingat? Saat Ibumu pulang dari Jakarta dan membawakanmu sepasang sepatu berwarna biru? Ingat? Ketika kamu pernah ranking 1? Ingat? Ketika, siapa namanya dulu Fil? Anak kecil seusiamu yang rajin mengirimu surat? Aku lupa, sengaja melupakannya, usiamu terlalu kecil dan kamu memang tak peka pada hal-hal begitu kan dulu? Tapi kau bahagia bukan? Ingat? Ketika teman-temanmu memberikan kejutan diulang tahunmu? Ingat? Ketika dia, dia, dia, dan dia mengatakan perasaannya padamu? Namanya bahagia Fil, kamu sudah begitu lancar mengejanya kukira.
Kemudian luka Fil, kamu juga sangat tahu kan?
Suatu hari aku duduk bersama Bapakmu, dan dia berkata "Nanti, kamu lulus kuliah dulu, baru Bapak naik haji." Aku menangis semalaman setelah itu di kamar dengan isak yang tertahan. Perih bukan Fil?
Dihari dan bulan yang jauh-jauh dari air mata itu, seorang sahabat tidak datang ketika kau sangat membutuhkannya. Merasa menghadapi getir sendiri tanpa ada alat peraba. Pada sebuah perjalanan aku menangis, mengelus retak dengan terbata. Luka bukan fil?
Dihari dan bulan yang jauh-jauh dari air mata itu, seorang sahabat tidak datang ketika kau sangat membutuhkannya. Merasa menghadapi getir sendiri tanpa ada alat peraba. Pada sebuah perjalanan aku menangis, mengelus retak dengan terbata. Luka bukan fil?
Pada suatu tahun, hari dan bulan yang lalu. Ketika sebuah stasiun menyaksikan jemariku yang mendingin dan tatapan mataku yang nanar. Sementara seseorang disampingku terlalu sama-sama menderita untuk mengurai kata. Aku diam, menggigit bibir bawahku yang bergetar dan sekuat tenaga menahan laju butiran tangis diujung mata. Sakit bukan Fil? Lalu belajar mengikhlaskan dan diikhlaskan luka.
Lalu, ketika aku belajar cemburu. Membiarkan hatiku yang lama angkuh untuk jujur dan membiarkan dinding kokohnya meluntur perlahan. Perih bukan Fil? Aku sekarang tahu kenapa diriku dulu membentuk diri menjadi begitu jumawa, karena memang sangat luka cemburu itu. Bukan begitu Fil? Jujurlah pada dirimu sendiri, seperti dongengku malam ini.
Nafil, aku mau bercerita banyak padamu malam ini. Masihkah telingamu mendengarkanku? bukankah kamu selalu mengaku pandai mendengarkan? Kenapa seringkali tidak padaku? Padahal aku bagian darimu Fil, Pelengkap keutuhanmu.
Nafil, satu hal yang ingin kukatakan padamu. Kau ingat bukan tentang guru bahasamu ketika SMP dulu? Iya, dia yang berkepala botak. Fil, kenapa kamu mulai melepas yang ingin kamu genggam erat? Kamu ingat Bapak itu pernah berkata, "Nafil, Bapak suka cita-citamu. Ah, bukan suka namanya tapi percaya. Tapi jangan mudah lelah, apalagi bosan."
Nafil, kamu sedang apa sekarang?
Lihat tanganmu dan teliti apa saja yang sudah hilang dari sana?
Kamu masih tak melihat Fil?
Kukira kamu mulai buta ..
Kamis, 18 April 2013
Surat
Kepada sahabatku, Tri Nurani
Ran, berapa umurmu tahun ini? 22 tahun kah? 23 tahun kah? Haha, begitu cepatnya waktu merambat menelan usia-usia kita begitu saja. Tidak ada yang tidak menjadi usang bukan? Kecuali lahir terus menerus. Sedang apa kau di sana? Lelah pada hari-hari kah? Atau terlalu sibuk bahagia? Ah, apapun itu Ran.
Hari ini tiba-tiba aku diserang rindu padamu. Pada masa-masa putih biru yang menyekat kita pada dunia ambigu yang lucu. Hah, aku rindu bersepeda jauh-jauh, atau, melihat nilai-nilaimu yang selalu sepuluh. Iri betul aku padamu Ran. Rambut keritingmu itu, melindungi otak yang selalu saja membuat aku ingin sepertimu. Waktu itu, ketika nilai-nilai sekolah adalah kebanggaan bocah-bocah lugu seperti aku dan kamu.
Aku rindu pada waktu-waktu itu. Ketika kita menjadi kanak-kanak tanpa banyak logika. Tidak ada lelah atau menyerah. Semua adalah petualangan tanpa banyak gugatan penuntutan. Semua adalah kemasan tawa tanpa tanda kadaluarsa. Dulu, bukankah begitu Ran? Meski aku tahu, matamu selalu menyimpan entah apa itu. Yang sering membuatku merasa kau tengah tak di sana, bersama tawa yang kadang kurasa kau mati rasa.
Hari-hari itu Ran, hari-hari di mana kita menuju dewasa dengan tergesa. Seolah kedewasaan adalah surga dan kanak-kanak itu memalukan. Aku menyesal. Aku rindu sekali Ran. Pada kantin sekolah, pada bangku-bangku kelas, pada remidi ulangan fisika, pada guru Sejarah yang galak, pada mushola di sekolahan, pada sahabat-sahabat kita, Diaz, Nila dan Fani. Semua nampak mengejarku, seperti menarik ribuan helai takdirku untuk kembali ke sana. Entah menemui apa ..
Waktu ternyata memang sangat mengerikan. Ia merenggut tawa bocah kita dan mengubahnya menjadi kedewasaan yang memuakkan. Pada Nila dan Diaz. Tiba-tiba kita menjadi begitu berubah. Seolah-olah modernitas membuat kita menjadi begitu najis pada kebersamaan. Ran, aku telah terlalu muak tapi aku kelu pada rindu ..
Tentang kematian Ran ..
Aku tahu kau lebih bersahabat dengannya ketimbang aku. Waktu itu, ketika tubuhmu bergetar saat perempuan yang mengandungmu 9 bulan berbalut kain kafan, aku hanya mampu bisu. Di sana, puluhan pelayat berbela sungkawa dan mengelus kepalamu. Kau masih tidak menangis. ran, begitu kuatkah hatimu? Atau begitu hebat kah kau bersembunyi?
Kematian, lagi, ketika ia menyapa Fani dan membawanya. Itu pertama kalinya aku mengenal luka Ran, sementara kau jauh lebihh dulu kenal. Diusia semuda itu, aku tak mengerti kenapa kematian menjadi begitu aku takutkan. Lalu kini aku mengerti, bagaimana baik Tuhan tak mengenalkan pada Fani dunia yang merenggut kita sekarang. Begitu baik tuhan hingga Fani tak perlu hanya demi anu atau atas nama anu harus begini dan begitu. seperti yang kita jalani sekarang, bukan begitu kah Ran???
Selamat sore Rani, sahabatku, ini surat pertamaku yang entah sampai atau tidak padamu ..
Di sini gerimis Ran, sementara hatiku telah lebih dulu banjir .. :)))
Ran, berapa umurmu tahun ini? 22 tahun kah? 23 tahun kah? Haha, begitu cepatnya waktu merambat menelan usia-usia kita begitu saja. Tidak ada yang tidak menjadi usang bukan? Kecuali lahir terus menerus. Sedang apa kau di sana? Lelah pada hari-hari kah? Atau terlalu sibuk bahagia? Ah, apapun itu Ran.
Hari ini tiba-tiba aku diserang rindu padamu. Pada masa-masa putih biru yang menyekat kita pada dunia ambigu yang lucu. Hah, aku rindu bersepeda jauh-jauh, atau, melihat nilai-nilaimu yang selalu sepuluh. Iri betul aku padamu Ran. Rambut keritingmu itu, melindungi otak yang selalu saja membuat aku ingin sepertimu. Waktu itu, ketika nilai-nilai sekolah adalah kebanggaan bocah-bocah lugu seperti aku dan kamu.
Aku rindu pada waktu-waktu itu. Ketika kita menjadi kanak-kanak tanpa banyak logika. Tidak ada lelah atau menyerah. Semua adalah petualangan tanpa banyak gugatan penuntutan. Semua adalah kemasan tawa tanpa tanda kadaluarsa. Dulu, bukankah begitu Ran? Meski aku tahu, matamu selalu menyimpan entah apa itu. Yang sering membuatku merasa kau tengah tak di sana, bersama tawa yang kadang kurasa kau mati rasa.
Hari-hari itu Ran, hari-hari di mana kita menuju dewasa dengan tergesa. Seolah kedewasaan adalah surga dan kanak-kanak itu memalukan. Aku menyesal. Aku rindu sekali Ran. Pada kantin sekolah, pada bangku-bangku kelas, pada remidi ulangan fisika, pada guru Sejarah yang galak, pada mushola di sekolahan, pada sahabat-sahabat kita, Diaz, Nila dan Fani. Semua nampak mengejarku, seperti menarik ribuan helai takdirku untuk kembali ke sana. Entah menemui apa ..
Waktu ternyata memang sangat mengerikan. Ia merenggut tawa bocah kita dan mengubahnya menjadi kedewasaan yang memuakkan. Pada Nila dan Diaz. Tiba-tiba kita menjadi begitu berubah. Seolah-olah modernitas membuat kita menjadi begitu najis pada kebersamaan. Ran, aku telah terlalu muak tapi aku kelu pada rindu ..
Tentang kematian Ran ..
Aku tahu kau lebih bersahabat dengannya ketimbang aku. Waktu itu, ketika tubuhmu bergetar saat perempuan yang mengandungmu 9 bulan berbalut kain kafan, aku hanya mampu bisu. Di sana, puluhan pelayat berbela sungkawa dan mengelus kepalamu. Kau masih tidak menangis. ran, begitu kuatkah hatimu? Atau begitu hebat kah kau bersembunyi?
Kematian, lagi, ketika ia menyapa Fani dan membawanya. Itu pertama kalinya aku mengenal luka Ran, sementara kau jauh lebihh dulu kenal. Diusia semuda itu, aku tak mengerti kenapa kematian menjadi begitu aku takutkan. Lalu kini aku mengerti, bagaimana baik Tuhan tak mengenalkan pada Fani dunia yang merenggut kita sekarang. Begitu baik tuhan hingga Fani tak perlu hanya demi anu atau atas nama anu harus begini dan begitu. seperti yang kita jalani sekarang, bukan begitu kah Ran???
Selamat sore Rani, sahabatku, ini surat pertamaku yang entah sampai atau tidak padamu ..
Di sini gerimis Ran, sementara hatiku telah lebih dulu banjir .. :)))
Senin, 08 April 2013
PINTU
Telah kutitipkan padamu
Lewat dinding kamar yang dingin juga sepi
Gumpalan-gumpalan cerita
Dan garis-garis temaram
Hari ini,
Ribuan hektar pelangi hampir jatuh di kamarku
Lewat matamu,
Disekat jeda semua mendadak bisu
Ah,
Di
pintu kamarku kau mengetuk-ngetuk namanya.
Sayang, kau tahu telah lama bulan purnama tak jatuh di halaman rumahku
Atau padang ilalang yang menjelma gurun pasir di belakang rumahku
Semua terasa begitu asing
Di sini, hujan tak ada di bulan Juni atau Juli
Tapi entah, dibalik pintu kamarku ..
Mungkin nanti bisa kau dengar rapat tetesnya,
atau kau raba basahnya ..
Mungkin, nanti ..
Langganan:
Postingan (Atom)