Bacaaa yuuukkk ....

Belajar ,, dari yang biasa .. biasa saajjjaaaa ,, sampe jadi luarr biasaa ..

Jumat, 24 Agustus 2012

Klakson Ayo Klakson !!

     Hari ini, lagi, saya duduk di atas jok motor butut saya menunggu lampu hijau menyala disebuah peremtapan besar yang jauh dari rumah. Seorang teman yang duduk di jok belakang dari tadi sudah mengeluhkan matahari yang bersinar terlalu terik hari ini. Oke, saya hanya mendengarkan dan merasakan terik matahari yang terus menusuk kepala menembus helm yang juga butut yang sejak tadi terparkir mesra dikepala saya.
       Delapan puluh detik lampu merah pun hampir terasa seperti 350 tahun penjajahan Belanda. Yess, yang ini memang lebay tapi kemacetan dan panas yang mencekik terasa sangat menyiksa. Mobil-mobil dengan dominasi plat B dan D pun dengan grusah-grusuh  menunggu lampu hijau menyala. Dan, 7, 6, 5, 4, tinn, tinn, suara klakson menyambut lampu hijau dengan sangat memekakkan telinga. Saya yang berada lumayan dijajaran paling depan segera menoleh kebelakang dan melototkan mata tanda tak suka. Pengendara motor, pengendara mobil, dan pengendara-pengendara lain dibelakang saya itu kemudian serempak rasanya menghujani saya dengan klakson. Teruskan saja pikir saya, kalau lampu hijau belum menyala saya tidak akan jalan. 
       Akhir-akhir ini sebagai pengguna dan pengamat jalan raya saya memang kurang suka dengan kebiasaan yang entah sejak kapan rasanya mulai membudaya dikalangan pengguna jalan raya. Kebiasaan memencet, menggebuk, mumukul, menyentuh, mengeplak  atau apa pun itu sebutannya agar klakson mereka berbunyi bahkan sebelum lampu hijau menyala sangat meresahkan saya kadang-kadang. Rasanya kebiasaan menyalahkan sebelum kesalahan dibuat sangat tercium dalam aksi klakson mengklakson ini.
       Ah, kenapa tidak mencoba untuk sedikit bersabar dan membiarkan yang di depan leluasa berjalan dulu dengan nyaman? Kenapa semua orang serasa diburu melulu? Jalanan harusnya mengajari kita untuk sabar, bukan semakin tak mau kalah menjadi yang tercepat. Rasanya rumus percepatan sama dengan jarak per secon kuadrat itu harus diganti menjadi jarak per sabar kuadrat. Yess??
       Saya tidak mau tahu Anda dari mana mau ke mana, tidak mau tahu apa huruf depan dan belakang plat kendaraan Anda, tidak mau tahu apa yang meburu Anda untuk terus terburu-buru. Kalau Anda berniat terus mengganggu kenyamanan orang lain dengan klakson-klakson Anda, saya sarankan ganti kendaraan Anda dengan ambulans !!!
  

Sabtu, 18 Agustus 2012

KUCING, nama?

     Lupa aku sudah berapa tahun memelihara Sari, kucingku yang kembang telon. Selama ini dia tidak merepotkan cuma kadang-kadang menjengkelkan saja. Kalau sedang tidak benar kelakuannya dia suka mengganggu dapur ibuku atau memancing kemarahan bapakku dengan rengekan manjanya. Tapi dia sangat setia dengan keluarga kami, bahkan mengeluh pun tak pernah ia lakukan. Aku senang campur terharu. Dari Sari kecil sampai menginjak dewasa sekarang aku merawatnya dengan senang, ya ada lah kadang-kadang membentaknya kalau dia mengganggu dapur tetangga.
     Sari kucing yang unik karena aku melihatnya dari sudutpandang keunikan pula. Kalau dia tidak unik maka aku akan mati-matian mencari keunikannya. Dia tumbuh dewasa di keluarga yang aku sebagai pengabdosinya cukup memperhatikan tumbuh kembangnya. Sari punya keunikan yang kali ini aku rasa benar meski pun Bapakku suka mengatakan aku mengada-ada. Sari suka marah kalau diperlakukan tidak adil, misalkan kami sekeluarga makan ayam lalu dia makan dengan ikan asin maka rasa-rasanya dia akan menatapku dengan tatapan penuh kemarahan. Atau misalkan pernah seorang saudara menceritakan kucingnya yang hebat, gaul dan keren kepadaku, Sari terus menerus melirikku tidak suka. Iya, Sari marah aku tidak adil tidak menceritakan keistimewaannya yang memang nihil. -_-

Minggu, 12 Agustus 2012

Sebuah Buku Harian -Suminto A Sayuti-


SEBUAH BUKU HARIAN

Akan tereja kembali di sini

Sebuah riwayat paling purba

Tentang Adam yang terusir

tentang usia yang semakin menggigil

Diam-diam aku mencintaimu

Tidurlah kekasih dalam kalbuku barang sejenak 

Sementara angin berkesiul

membuat siklus di antara hari-hari merenda

Perjalanan tak berujung

Akan bermula kembali di sini

Sementara resah datang menghardik 

Sementara hati terasa cabik-cabik … 

     
              Suka sekali puisi ini, apalagi musikalisasi puisinya mantab sekali. Rasanya sederhana tapi dalem sekali. Biasa tapi getir sekali. Menulis puisi memang selalu tidak lebih mudah daripada menikmati puisi. Jadi, jempol empat buat Dosen favorit saya Pak Minto yang keren abis untuk puisi ini. :D
            Paling suka sama bait ini; Diam-diam aku mencintaimu / Tidurlah kekasih dalam kalbuku barang sejenak. Rasanya ada yang ngalir, entah bagaimana ikut nyesek di hati. Rasanya ada yang ikutan jadi sedih, rasanya ada yang ikutan jadi pecinta yang cintanya tidak pernah tersampaikan. Oke, imajinatif sekali sayaaa .. J jadi berkhayal sayalah tokoh utama dari bait-bait puisi indah ini.
            Karena saya belum bisa (semoga suatu saat jadi bisa) menulis puisi maka dengan sangat bijaksana saya memutuskan untuk menjadi penikmat puisi dulu. Tidak susah mencintai puisi apalagi kalau tulisannya indah-indah begini. Rasanya hampir sama kok kayak cinta kamu .. hehe :D
   


Selasa, 24 Juli 2012

Ke Kotamu

Tak pernah terpikirkan sebelumnya aku akan melewati jalanan ini dengan rasa semenyakitkan ini. Tidak, aku biasa saja. Seperti biasanya aku akan datang dan pergi begitu saja. Ke kotamu hari ini menyisakan pahit yang entah dari mana asalnya. Tidak ada yang lebih hebat dari hari ini untukku, ke kotamu dengan sangat teramat biasa saja. 
Stasiun, peron, loket, harga karcis, menunggu kereta datang, suasana ramai stasiun masih begitu sama rasanya. Tempat ini masih begitu ramai akan orang-orang yang entah mau ke mana saja tujuan mereka. Kepalaku pun begitu ramai, sibuk dengan pikiran yang membawaku mengembara jauh dari tempat ini. 
Dan kereta datang, kereta murah dengan aroma khas menyajikan pemandangan yang hampir selalu sama tiap harinya, penuh sesak. Orang-orang ribut mencari tempat duduk, aku berjalan pelan menyusuri gerbong kereta. Tak pernah sepelan ini, tak pernah terasa begitu begini ini. Kekotamu, hari ini.

Sabtu, 21 Juli 2012

Tak Semanis Permen


         Namanya Annisa, gadis kecil berumur 4 tahun yang lucu. Wajahnya begitu manis, tak semanis hidupnya memang. Ia masih begitu kecil untuk mengerti tentang hidup dan kehidupan. Ia tak pernah tahu kenapa ia harus tumbuh, harus mengerti, harus menerima dan harus hidup. Ia tak mengerti, yang ia tahu cuma ia menyukai bungkus warna-warni di warung tetangganya yang berisi permen beraneka rasa. Ia masih sangat kecil, sangat kecil untuk memahami apa yang harus ia terima.
            Hidup bersama Kakek dan Nenek yang semakin menua dan dijerat kemiskinan membuatnya sering ketinggalan banyak hal dari teman-teman sebayanya. Ketinggalan? Bisa dikatakan sangat ketinggalan mungkin. Ia tak mengenal susu formula, tak mengenal es krim rasa coklat, tak mengenal play group dan tak mengenal pasar malam. Tapi ia sangat ceria, meski pun seringkali menyembunyikan mukanya dibelakang kaki Neneknya tiap kali bertemu temannya yang makan es krim atau meminum susu dari botol-botol bergambar tokoh kartun yang tak ia kenal. Ia tak pernah berkata meminta pada Neneknya, ia tak mangerti, terbiasa untuk menerima apa pun dengan diam.

Rabu, 11 Juli 2012

Tua

    Namaku Tua. Dulu aku tak bernama begitu, setidaknya pernah bukan itu. Kalau sekarang menjadi begitu ya bukan masalah untukku, aku menerimanya saja dengan biasa, sangat biasa. Semua orang memanggilku begitu, aku sudah terbiasa dan tidak ingin mengubah apa-apa. Sekali lagi, namaku Tua dan aku sudah terbiasa. Bukan masalah.

Sabtu, 07 Juli 2012

Tiba - Tiba

     "Boleh saya numpang di sini?" Tanyaku padanya, dia hanya menoleh kemudian mengangguk.
     "Apa benar Saudara tidak apa-apa kalau saya menumpang?" Dia mulai heran, menoleh lagi dan mengangkat alis sebelah kirinya.
     "Numpang apa Mbak?" Akhirnya dia bertanya.
     "Saya mau menumpang menangis di sini, boleh?"
Dia diam, menggeser duduknya memberikan tempat dudu kuntukku.
*
      Semua terjadi dengan sangat tiba-tiba, setiba-tiba hujan di musim kemarau. Sangat tiba-tiba, setiba-tiba kabar kematian yang tak pernah diduga. Sangat tiba-tiba dan harus diterima. Bukan, ini bukan tentang sebuah kematian, meski hampir sama artinya. Kematian, akan menyisakan kehilangan bagi yang ditinggal mati, dan kehilangan akan melahirkan kenangan. Kehilangan dan kenangan adalah bayi dan ari-ari yang rapat dirahim ibu. Begitu pun kamu, kamu memang tidak mati, tapi kamu hilang, kemudian kenangan. Tiba-tiba.
       Mungkin kamu memang suka segala sesuatu yang tiba-tiba, kamu suka memberikan kejutan. Kenapa? Aku tak mau lagi tahu kenapa, bukan urusanku Tapi ketiba-tibaan yang kamu hadirkan dalam hariku telah meremukkanku jadi berserpih-serpih rasanya. Terserahmu lah, akhirnya aku hanya bisa berkata begitu. Benar, pembendaharaan kata dalam hidupku akhirnya hanya tertuju pada satu frasa: terserahmu lah!