Bacaaa yuuukkk ....

Belajar ,, dari yang biasa .. biasa saajjjaaaa ,, sampe jadi luarr biasaa ..

Rabu, 14 November 2012

Rambat Jalar

Kepada kucing-kucingku di rumah ..
Mungkin aku harus menuliskan ini kepada mereka. Aku harus menulis, sama seperti aku harus makan. Dan pada lembar yang ini aku diburu kebimbangan tentang kepada siapa tulisanku akan kubuat. Kucing-kucingku, apa kabar kalian? Beberapa minggu tak melihat kalian. Kucingku, dengarkan, di sini aku sedang belajar banyak hal. Memang tak selamanya aku serius, banyak kali cuma aku habiskan dengan beberapa hal tidak penting. Aku kadang iri kepada kalian, kalian tak perlu belajar banyak hal. Tinggal hidup dan mengeong saja. Sementara aku? Ah, aku tahu pada titik ini kalian pun iri padaku kan? Setidaknya aku bisa pergi kemana pun sesukaku. Kucing-kucingku, hiduplah bahagia, hiduplah sejahtera. Bukankah kata Cu Pat Kai, cinta itu deritanya tiada akhir sementara kalian tidak mungkin jatuh cinta bukan? Jadi kalian tak kenal kata menderita.

Minggu, 28 Oktober 2012

Suara-suara pada Jum'at Pagi

        Sunyi. Aku menoleh ke luar jendela yang begitu sepi. Tidak ada angin berbisik, tak ada burung mencercit   , bumi terasa bisu dan kelu. Hampir satu jam aku tenggelam dalam pagi yang begitu hening. Tulang-tulang kakiku terasa lemas, bahkan rasanya aku tak punya kekuatan mengangkat pantatku dari kursi kursi kayu di rumahku.
            Beberapa suara tiba-tiba menelusup ketelinga, dari berbagai lintasan waktu.
            “Kita dikejar waktu, sebulan lagi kita harus pentas!!”
            Suara pertama terdengar keras, terucap lantang dari seorang perempuan. Aku bisa membayangkan wajah si empunya suara yang akhir-akhir ini mengejarku dengan jadwal pementasan.

Selasa, 16 Oktober 2012

Maghrib

       Ada salah satu tokoh novel yang aku terkesan sekali padanya. Cobaan hidupnya sangat berat sampai ia merasa kematian adalah jalan keluarnya. Iya, kematian terlalu menggoda untuknya. Tapi ia melawan rasa ingin matinya sekuat tenaga. Ia mencoba bertahan dengan zikirnya, zikir yang sangat sederhana ia kenal. Nadira namanya, Nadira Suwandi. (Dalam novel 9 dari Nadira karya Leila S Chudori).
***
-Tuhan, aku juga sedang mencobanya.. mencoba melawannya,,-

Kamis, 27 September 2012

Mengeja Pagi


             Aku tidak bermaksud membuat pagi ini menjadi begitu kacau.  Mata anak-anak kos memandangku aneh dan sedikit jijik, sementara aku hanya bisa nyengir dan berjalan pelan keluar kamar mandi. Sekali lagi pagi ini, aku tidak bermaksud tertidur di kamar mandi. Aku mulai mendengar sindiran anak-anak kos mengeras dan memanas ditelinga. Benar, bukan keinginanku untuk terlalu nyaman tertidur di kamar mandi.
            Aku yakin, tidak akan ada yang mau punya kebiasaan sepertiku, begitu juga aku. Aku sama sekali tidak pernah berharap punya kebiasaan tertidur di kamar mandi dan merasa nyaman di sana.  Bagaimana aku harus mengungkapnya, aku bahkan merasa bingung dengan keadaanku. Setiap pagi aku bangun, secara tidak sadar dan sadar aku akan melangkah ke kamar mandi, jongkok di kloset dan tidur lagi. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukannya, tapi ujung-ujungnya aku akan kembali ke kebiasaanku.
            Kelak, aku tahu kamu juga akan sangat tidak suka pada kebiasaanku ini. Tenang, aku akan sedikit demi sedikit berubah. Untukmu apa pun akan kulakukan bahkan dengan tidak menjadi diriku sendiri. Tapi, setidaknya aku mohon ajari aku dulu. Ajari aku mengeja pagi, sepertimu melakukannya.

Senin, 17 September 2012

3 Ekor Nyamuk dan Perasaannya I

       Hari ini masih seperti kemarin dan kemarinnya lagi, terlalu monoton. Tapi ada yang sedikit, -lumayan berbeda-. Perkenalanku dengan 3 ekor nyamuk yang sempat singgah di lengan kananku, pipi kiriku, telapak kakiku dua-duanya dan kalau tidak salah punggungku membuatku semakin susah tidur. Mereka masih saja ribut, saling berpendapat. Terjadilah percecokan sengit antara ketiganya, saling berebut perhatianku. Ketiganya merasa benar semua, aku bingung ingin membela yang mana. Dan sedari tadi pun aku hanya diam, menikmati gigitan mereka yang penuh amuk amarah, gatal sekali.
         Biar lebih mudah, aku akan memperkenalkan 3 ekor nyamuk ini pada kalian. Mari kita kenali lebih jauh lika-liku kehidupan mereka disempitnya kamar kosku. Nyamuk pertama terdeteksi berjenis kelamin laki-laki (tidak usah mencoba mencari tahu aku mengenali kelaki-lakiannya darimana, ini jelas dari lokasi gigitan yang dia pilih) namanya Bobo. Jangan memandang dari segi namanya yang terkesan unyu, dia tidak unyu sama sekali, sangat keras kepala. Nyamuk kedua terdeteksi perempuan, tubuhnya proporsional dengan bentuk kaki yang lumayan indah, namanya Nene. Nene dalam tatanan hidup kenyamukan berperan lumayan banyak, dia adalah pemberi informasi apabila target (adalah saya) sudah lengah dan siap disantap. Nyamuk yang ketiga juga perempuan, namanya Laila. Laila adalah nyamuk perempuan paling sembarangan, dia tak pernah menggubris kerja Nene, dia menggigit tanpa mempedulikan kondisi target. Dan obrolan mereka malam ini sedikit menggangguku yang sedari tadi berusaha berpura-pura tidur.

Nene: "Laila, jangan suka menggigit sembarangan! Edan kamu, target belum lengah sudah main sedot saja! Pake etika dong,"
Laila: "Cerewet kamu Ne, resiko ditanggung aku sendiri kok. Aku mengenal target ini dengan baik, dia akan ikhlas menyumbangkan darahnya padaku. Dia lumayan baik,"
-Aku tersenyun, Laila benar sekali, aku memang baik,-
Nene: "Kamu sukanya menyambar jatah orang juga, bukannya dulu kita sepakat kalau bagianku itu telapak kaki kiri?"
Laila: "Nha kan, kamu mulai mencari-cari kesalahanku,"
Nene: "Kamu memang salah, jangan mengelak lagi atau kamu aku bawa ke dewan mahkamah pernyamukan di kos ini?"
Bobo: "Bisakah kalian berdua menikmati makan malam kalian dengan sedikit khidmad>"
Laila: "Setuju deh sama kamu Bo, Nene memang kebanyakan omong,"
Nene: "Oh, mulai mau menyerangku bersama-sama lagi? Cih, cara lama!"
-Oke, jadi dulu-dulunya(sekitar 2 atau 3 hari yang lalu) mereka juga sempat bertengkar hebat. Ternyata Nene dan Bobo sempat terjebak cinta lokasi, namun Laila datang mengacaukannya. Nene memiliki dendam pribadi pada Laila, dramatis sekali,-
Bobo: "Bukan begitu dik Nene, abang cuma ingin kalian makan dengan tenang agar tercipta keharmonisan kita yang dulu lagi,"
Laila: "Sudahlah, kalian tidak usah bernostalgia di depanku!"
Nene: "Siapa sudi bernostalgia dengan makhluk itu,"
Bobo: "Iya iya tidak ada yang bersedia, mari kita makan malam lagi,"
Nene: "Bang, paksa saya bernostalgia dong!!!"
Bobo: "Lah??"
Laila: "Tuh kan, kelihatan yang gatel siapa?"
Nene: "Yang gatel ya jelas yang sukanya nyampurin orusan orang,"
-Sambil marah gigitan Nene samasekali tak terkedali, berapa liter darahku berkurang, T.T-
Laila: "Siapa ya? Situ jelas-jelas minta digaruk sama Bobo,"
Bobo: "Sudah-sudah, tidak ada yang gatel. Jangan ribut terus nanti target kita bangun.
-Aku belum tidur, bego-
Nene: "Bo, akar permasalahnnya memang kamu kok! Bela salah satu dong, jangan cuma nyari aman! Kampret kamu,"
Laila: "Pancen kok, kamu Bo yang gatel sebenernya. Jadi nyamuk kok sukanya ditengah-tengah! Pengecut kelas nyamuk kamu!"
Bobo: "Lah kan, jadi aku yang gatel itu begimana??"
Nene: "Coba dari awal kamu jelas, setidaknya jelas melukai atau jelas tidak melukai maka kami tidak akan terluka begini! Kamu ini gatel sekali rupanya,"
Laila: "Atau setidaknya coba dari awal kamu tidak pengecut untuk terus berada pada titik aman maka ekologi hidup pernyamukan kita tidak akan menjadi begini rumit Bo,"
Bobo: "Welha aku jadi bingung,"
-Sebenarnya perasaan nyamuk-nyamuk perempuan itu terasa sangat imajiner, Bobo bahkan terlihat tak tahu apa-apa-
Nene: "Dasar kegatelan! Kamu menghancurkanku Bo!"
Laila: "Menghancurkanku juga!"
Bobo: "Aku tidak gatel, kalian salah mengerti. Tunggu dulu, jangan keburu nangis disini, suara ngiung-ngiung kalian bisa membangunkan tuan putri,"
-Bobo memang pintar merayu,-
Laila: "Tidak usah mencari alasan kamu, kalau sudah kepepet saja pengennya lari dari masalah,"
Bobo: "Laila, jangan  memperkeruh suasana,"
Laila: "Kamu jangan kegatelan!"
-Watdezingggg,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, aku yang gatel nyamuk-nyamuk somplakkk,-
Nene: "Sudahlah, aku memutuskan pergi saja, kamar ini sudah tidak kondusif lagi untukku,"
Laila: "Jangan Ne, mari kita baikan saja. Apa kamu tega target kita kesepian tidak ada kita?
Nene: "Sudahlah Laila, aku sudah memaafkanmu tapi aku tidak mau di sini lagi,"
-Wah, kasian ni si Nene-
Bobo: "Ne, pikirkan matang-matang dulu,"
Laila: "Iya Ne, terlalu banyak kenangan di sini,"
Bobo: "Setidaknya pernah ada "kita" di sini Ne,,,,,"
Laila: " Iya Ne, KITA, aku, kamu dan dia!"
Nene: " Ah, kapan aku bisa beranjak dari kenangan kalau untuk melangkah keluar saja aku diburu ketakutanku sendiri,"
-Dan rasanya kamar ini menjadi begitu hening- Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

Senin, 10 September 2012

1002 Mimpi Jumlahnya

        Ada yang mengendap di kepala, tumbuh dan terus tumbuh secara menakutkan. Iya, banyak sekali ingatan yang masih saja tak bisa dihapus atau sekedar dianggap tak bermasalah. Masih saja, begitu mengganggu rasanya. Ingatan ini seperti mimpi-mimpi buruk yang menghantuiku kemana pun. Aku jengah, muak!!
          Bayangkan saja, jika aku sedang tersenyum senang bisa tiba-tiba berhenti jika mimpi buruk itu datang. Jika aku sedang sedih akan semakin sedih jika mimpi buruk itu kembali menari berputar-putar di kepala. Aku benci mengingat yang tak ingin aku ingat. Aku benci menyadari beberapa hal benar-benar terjadi, aku benci menyadari aku berubah, aku benci menyadari kita telah sama-sama menjadi lain. 

Jumat, 24 Agustus 2012

Klakson Ayo Klakson !!

     Hari ini, lagi, saya duduk di atas jok motor butut saya menunggu lampu hijau menyala disebuah peremtapan besar yang jauh dari rumah. Seorang teman yang duduk di jok belakang dari tadi sudah mengeluhkan matahari yang bersinar terlalu terik hari ini. Oke, saya hanya mendengarkan dan merasakan terik matahari yang terus menusuk kepala menembus helm yang juga butut yang sejak tadi terparkir mesra dikepala saya.
       Delapan puluh detik lampu merah pun hampir terasa seperti 350 tahun penjajahan Belanda. Yess, yang ini memang lebay tapi kemacetan dan panas yang mencekik terasa sangat menyiksa. Mobil-mobil dengan dominasi plat B dan D pun dengan grusah-grusuh  menunggu lampu hijau menyala. Dan, 7, 6, 5, 4, tinn, tinn, suara klakson menyambut lampu hijau dengan sangat memekakkan telinga. Saya yang berada lumayan dijajaran paling depan segera menoleh kebelakang dan melototkan mata tanda tak suka. Pengendara motor, pengendara mobil, dan pengendara-pengendara lain dibelakang saya itu kemudian serempak rasanya menghujani saya dengan klakson. Teruskan saja pikir saya, kalau lampu hijau belum menyala saya tidak akan jalan. 
       Akhir-akhir ini sebagai pengguna dan pengamat jalan raya saya memang kurang suka dengan kebiasaan yang entah sejak kapan rasanya mulai membudaya dikalangan pengguna jalan raya. Kebiasaan memencet, menggebuk, mumukul, menyentuh, mengeplak  atau apa pun itu sebutannya agar klakson mereka berbunyi bahkan sebelum lampu hijau menyala sangat meresahkan saya kadang-kadang. Rasanya kebiasaan menyalahkan sebelum kesalahan dibuat sangat tercium dalam aksi klakson mengklakson ini.
       Ah, kenapa tidak mencoba untuk sedikit bersabar dan membiarkan yang di depan leluasa berjalan dulu dengan nyaman? Kenapa semua orang serasa diburu melulu? Jalanan harusnya mengajari kita untuk sabar, bukan semakin tak mau kalah menjadi yang tercepat. Rasanya rumus percepatan sama dengan jarak per secon kuadrat itu harus diganti menjadi jarak per sabar kuadrat. Yess??
       Saya tidak mau tahu Anda dari mana mau ke mana, tidak mau tahu apa huruf depan dan belakang plat kendaraan Anda, tidak mau tahu apa yang meburu Anda untuk terus terburu-buru. Kalau Anda berniat terus mengganggu kenyamanan orang lain dengan klakson-klakson Anda, saya sarankan ganti kendaraan Anda dengan ambulans !!!